Gencatan Senjata AS-Iran Runtuh: Iran Gempur Kapal Perang AS, Hantam Kilang Terakhir UEA


Kondisi “perang beku” pecah setelah Iran serang kapal AS di Selat Hormuz dan ledakkan kilang minyak utama UEA. Dunia kini tanggung imbas krisis energi akibat eskalasi yang dipicu serangan AS-Israel ke kilang Iran.

TEHERAN, KABEREH NEWS Gencatan senjata de facto antara Iran dan Amerika Serikat dinyatakan runtuh. Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan terhadap kapal perang AS di Selat Hormuz dan menghancurkan kilang minyak terakhir milik Uni Emirat Arab, Selasa, 5 Mei 2026.

Serangan terhadap kapal perang AS terjadi saat armada tersebut menggelar Operasi Freedom Project atas perintah Presiden Trump. Pada waktu bersamaan, Iran juga menembak kapal Korea Selatan yang disebut melintas di Selat Hormuz tanpa izin.

Sore harinya, eskalasi berlanjut. Iran menghantam kilang minyak vital di UEA yang menjadi titik ekspor utama negara itu. Kilang tersebut diserang karena dinilai menjadi pusat kerja sama energi UEA-AS di tengah blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran.

Kronologi: Siapa Mulai Serang Kilang Sipil?
Krisis energi global yang terjadi saat ini tidak hanya dipicu oleh penutupan Selat Hormuz. Akar eskalasi bermula saat AS dan Israel menargetkan infrastruktur sipil Iran dalam perang dua pekan lalu.

Fars Gas Field, kilang minyak dan gas terbesar Iran, dibom Israel. AS saat itu juga mengancam akan menyerang Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, meski urung dilakukan.

"AS dan Israel yang pertama kali menyerang infrastruktur sipil dan kilang minyak Iran. Iran sudah berulang kali mengingatkan agar tidak menyasar fasilitas sipil, tapi mereka keras kepala," ujar analis geopolitik yang enggan disebut namanya.

Setelah Fars Gas Field diserang, Iran membalas dengan menargetkan seluruh kilang minyak dan gas negara Teluk yang berbisnis dengan AS. Sasaran termasuk Ras Lafan di Qatar, ladang gas terbesar dunia, lalu Bapco di Bahrain, dan beberapa kilang di Arab Saudi.

Dunia Tanggung Akibatnya  
Serangan balasan Iran terhadap infrastruktur energi Teluk memicu lonjakan harga energi global. Namun, banyak pemimpin dunia dinilai keliru menyalahkan Iran atas krisis ini.

"Kehancuran kilang minyak di Timur Tengah akibat rudal balistik Iran dipicu kalkulasi salah AS-Israel. Mereka menyerang kilang Iran dengan asumsi Teheran akan jatuh. Prediksi meleset, dunia yang menanggung akibatnya," kata sumber yang sama.

Serangan AS-Israel selama perang tidak hanya menyasar kilang. Infrastruktur sipil seperti jembatan, sekolah dasar, hingga TK di Iran turut jadi target.

Sikap Iran: Tak Ada Lagi Kesabaran 
Iran menegaskan pembalasan yang dilakukan saat ini merupakan hak membela diri. Penutupan Selat Hormuz, penenggelaman kapal musuh, hingga penghancuran kilang minyak disebut sebagai respons sah atas agresi yang dimulai AS dan Israel pada 28 Februari 2026.

"Iran telah lama bersabar. Dibom, diagresi, rakyat dan pemimpinnya dibunuh, anak-anak jadi korban. Kondisi saat ini berbeda. Iran akan berperang habis-habisan dengan tekad bulat," tegas pernyataan tidak resmi dari Teheran.

Teheran juga menyebut AS kini hanya punya dua opsi: mengakui kekalahan dan keluar dari perang sekarang, atau menunda dengan kerugian lebih besar. "Jangankan negara Teluk, Trump, AS, Israel, bahkan Netanyahu pun saat ini tidak akan mampu menundukkan Iran."

Penulis: Tengku Zulkifli Usman

0/Post a Comment/Comments