Melawan Lupa Simpang KKA: Ketika Pengakuan Negara Tak Cukup Mengeringkan Air Mata

Oleh: Dr. Drs. Teuku Muhammad Jamil, M.Si
(Senior Lecturer pada Sekolah Pascasarjana USK, Banda Aceh. Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh)

KABEREH NEWS | OPINI -- 27 tahun sudah, namun darah yang tumpah di aspal Simpang KKA, Aceh Utara, tak pernah benar-benar kering dari ingatan kolektif Aceh. Waktu memang menenangkan riak di permukaan, tapi tak pernah sanggup menutup lubang luka yang menganga. Sebab ada tragedi yang tak selesai dengan pergantian rezim, pergantian generasi, atau pidato seremonial tentang damai.

Bukan Sekadar Bentrokan

3 Mei 1999 bukan catatan kaki sejarah. Tragedi Simpang KKA adalah potret telanjang retaknya hubungan negara dengan rakyatnya. Ketika ribuan warga Krueng Geukueh berkumpul memprotes tindakan aparat dalam pencarian senjata yang hilang, yang mereka temui bukan ruang dialog. Yang meletus adalah timah panas. 

Jeritan, kepanikan, tubuh-tubuh yang runtuh dalam hitungan menit. Aceh kembali dipaksa belajar bahwa di hadapan moncong senjata, nyawa rakyat bisa sangat murah.

Hingga kini jumlah korban masih jadi angka yang diperdebatkan. Koalisi NGO HAM Aceh mencatat 46 tewas, 156 luka tembak, 10 hilang. Komnas HAM menyebut 23 meninggal, 30 luka-luka. Sumber lain bicara 73 nyawa. Tapi debat angka justru mengaburkan esensi: yang jadi korban adalah warga sipil tak bersenjata.

Ketika Negara Menghadirkan Takut

Dalam politik modern, legitimasi negara bukan dari seberapa kuat ia memegang bedil, tapi seberapa mampu ia melindungi martabat warganya. Saat negara gagal membedakan menjaga stabilitas dan menjaga kemanusiaan, yang terluka bukan hanya rakyat. Wibawa moral negara itu sendiri runtuh.

Simpang KKA harus dibaca sebagai alarm. Negara yang alergi kritik akan tergoda memberangus dengan cara represif. Padahal sejarah selalu sama: kekuasaan yang jauh dari empati akan ditinggalkan kepercayaan rakyatnya, perlahan tapi pasti.

Trauma yang Diwariskan

Yang paling kejam dari tragedi kemanusiaan bukan hanya kematian. Tapi trauma sosial yang menular lintas generasi. Anak-anak tumbuh tanpa ayah. Ibu-ibu menua dalam penantian yang tak berujung. Sebagian warga memilih diam, karena takut pernah jadi pelajaran hidup sehari-hari.

Ilmuwan sosial menyebutnya collective trauma. Luka yang tidak hanya milik korban, tapi membentuk cara satu masyarakat memandang negara, kekuasaan, dan masa depannya. Usianya bisa lebih panjang dari konflik itu sendiri.

Pengakuan Tanpa Keadilan = Arsip Dingin

Ya, negara telah mengakui Simpang KKA sebagai pelanggaran HAM berat masa lalu. Tapi pengakuan tanpa keberanian menegakkan keadilan hanya akan jadi arsip administratif. Dingin. Tak menyembuhkan.

Korban tidak butuh seremoni. Mereka butuh penghormatan. Pemulihan martabat. Dan jaminan paling dasar: ini tak akan terulang, pada siapa pun, di mana pun.

Melawan lupa bukan slogan ceng. Ia sikap moral. Bangsa yang sengaja mengamnesiakan tragedinya akan kehilangan kemampuan membedakan kekuasaan dan kesewenang-wenangan. Dan saat ingatan publik dimatikan, kekerasan akan lahir kembali. Dengan seragam berbeda.

Damai Bukan Sekadar Sunyi Senjata

Aceh hari ini memang damai. Tapi damai sejati bukan hanya berhentinya dentum senjata. Damai sejati adalah ketika keadilan hidup, HAM dihormati, dan rakyat tak lagi takut pada aparatnya sendiri. Tanpa itu, damai hanya jeda sunyi dari luka yang belum dijahit.

Generasi muda Aceh perlu tahu: perdamaian yang mereka hirup hari ini dibayar mahal. Dengan darah, air mata, dan kehancuran sosial yang tak sebentar. Karena itu, Simpang KKA jangan dikubur oleh lupa, apalagi dinegosiasikan oleh kepentingan politik lima tahunan.

Bangsa yang besar bukan yang menutup-nutupi borok sejarahnya. Tapi yang berani menatap lukanya sendiri, jujur, lalu membangun masa depan yang lebih beradab.

Simpang KKA mengingatkan satu hal: *kekuasaan tanpa empati melahirkan luka sosial yang panjang*. Dan bangsa yang sehat adalah bangsa yang mau belajar dari darahnya sendiri.

Semoga darah yang pernah membasahi aspal Krueng Geukueh jadi penanda abadi: tak ada stabilitas yang pantas dibangun di atas penderitaan rakyat. Karena kemanusiaan harus selalu lebih tinggi dari kepentingan kekuasaan mana pun.(*)

Sagoe Aceh, Tanggal Kesedihan, Bulan Air Mata. 27 Tahun yang lalu


0/Post a Comment/Comments