PANTEE BIDARI, ACEH TIMUR – Enam desa di Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, terpaksa patungan menyewa alat berat untuk membersihkan saluran irigasi yang tersumbat material banjir. Hingga kini, belum ada penanganan dari pihak berwenang.
Enam desa yang berinisiatif secara swadaya itu adalah Buket Kareung, Seuneubok Saboh, Seuneubok Tuha, Alue Mirah, Pante Rambong, dan Pante Labu. Saluran irigasi sayap kanan di wilayah tersebut tertimbun lumpur dan material pascabanjir, sehingga pasokan air ke sawah terputus total.
Tokoh masyarakat, Zulkifli Aneuk Syuhada, mengecam lambannya respons pemerintah. Menurutnya, pembersihan irigasi merupakan tanggung jawab negara, bukan warga.
"Ini sangat memprihatinkan. Masyarakat harus patungan sewa alat berat, sementara irigasi itu jelas tanggung jawab pemerintah. Jangan sampai pemerintah tutup mata," tegas Zulkifli, Jumat (25/4/2026).
Sawah Gagal Tanam, Ekonomi Petani Terancam
Akibat irigasi tersumbat, petani di enam desa tidak bisa turun ke sawah untuk musim tanam pascabanjir. Zulkifli menyebut kondisi ini mengancam ketahanan ekonomi warga Kemukiman Blang Seunong yang bergantung pada sektor pertanian.
"Petani ini mau hidup dari mana kalau sawah tidak bisa digarap? Ini bukan soal kecil, ini soal keberlangsungan hidup masyarakat," ujarnya.
Ia mempertanyakan keseriusan Pemkab Aceh Timur dalam menangani dampak banjir, khususnya di sektor pertanian. "Entah karena tidak ada anggaran atau memang tidak ada kepedulian. Yang jelas, sampai hari ini masyarakat dibiarkan berjuang sendiri," kata Zulkifli.
Desak Pemerintah Segera Turun Tangan
Zulkifli mendesak pemerintah memprioritaskan pembersihan saluran irigasi agar aktivitas pertanian kembali normal.
"Jangan tunggu kondisi semakin parah. Pemerintah harus segera turun tangan, bukan hanya melihat dari jauh," pungkasnya.
Masyarakat berharap ada langkah cepat dan konkret dari pemerintah daerah agar sawah kembali dialiri air dan petani bisa segera tanam padi.(Red)
Posting Komentar