Iran Terbelah: Pilih Perang atau Damai Usai Trump Perpanjang Gencatan Senjata

Foto: Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, putra kedua dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menghadiri pertemuan di Teheran, Iran, 22 Juli 2018. (via REUTERS/Mehdi Ghasemi)

"Garis keras ancam eskalasi, kubu moderat dorong dialog. Militer siaga, presiden sebut konflik rugikan Iran."

BANDA ACEH, KABEREH NEWS Pemerintahan Iran terbelah menyikapi perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu oleh Presiden AS Donald Trump. Kubu garis keras militer mendorong eskalasi konflik, sementara Presiden dan kubu moderat menyerukan dialog untuk menghindari kehancuran lebih lanjut.

Perpecahan terlihat jelas pada Kamis (23/4/2026). Di Teheran, elite militer dan media pemerintah menggelar demonstrasi kekuatan bertepatan dengan berakhirnya gencatan senjata dua pekan yang kini diperpanjang.

Garis Keras Pamer Kekuatan Militer
Di Lapangan Enghelab, rudal balistik Khorramshahr-4 dipamerkan di hadapan massa. Sementara di Lapangan Vanak, pasukan bertopeng bersenjata berdiri di atas peluncur rudal Ghadr, diiringi teriakan anti-AS.

Narasi perang diperkuat televisi pemerintah. Seorang pembawa acara mengklaim, tanpa menyebut sumber, bahwa 87% warga Iran lebih memilih kembali berperang dibanding memberi konsesi dalam negosiasi.

Tekanan militer terus meningkat. Markas Khatam al-Anbiya menyatakan pasukan siap "menembak kapan saja" merespons agresi. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga menyita dua kapal di Selat Hormuz. 

"Jika wilayah mereka digunakan untuk menyerang Iran, mereka harus mengucapkan selamat tinggal pada produksi minyak di Timur Tengah," tegas Komandan Kedirgantaraan IRGC Majid Mousavi, memperingatkan negara tetangga, dikutip Al Jazeera.

Kantor berita Tasnim bahkan menyebut kabel internet bawah laut bisa menjadi target berikutnya, yang berpotensi memicu "bencana digital" di kawasan.

Kubu Moderat Desak Deeskalasi  
Meski mendukung militer, Presiden Masoud Pezeshkian menilai konflik berkepanjangan tidak menguntungkan. "Solusi bukan pada eskalasi, tetapi akal sehat, dialog, dan menghindari kehancuran lebih lanjut," katanya.

Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf mengakui ketimpangan kekuatan militer. "Kita tidak lebih kuat dari AS secara militer. Mereka punya lebih banyak sumber daya. Tapi kita adalah pemenang di medan ini," ujarnya. Ghalibaf menyebut tujuan utama Iran adalah memperjuangkan hak rakyat, bukan kemenangan absolut, serta menyebut negosiasi sebagai "metode pertempuran".

Dari New York, Duta Besar Iran untuk PBB Saeed Iravani menegaskan negosiasi hanya bisa dilanjutkan jika AS mencabut blokade terhadap Iran.

Trump: Iran Alami Keruntuhan Finansial 
Trump menyebut perpanjangan gencatan senjata dilakukan karena pemerintah Iran dinilai terpecah dan belum mampu menyusun proposal terpadu. Ia juga mengklaim Iran tengah mengalami "keruntuhan finansial".

Selama 40 hari konflik, ribuan amunisi dilaporkan menghantam infrastruktur Iran, mulai dari fasilitas energi hingga transportasi. Banyak rumah sakit, sekolah, dan permukiman mengalami kerusakan. (Red)

0/Post a Comment/Comments