Artikel ini sebelumnya telah dimuat di London Review of Books, kemudian diterjemahkan dan diterbitkan ulang di sini untuk tujuan Pendidikan.
KABEREH NEWS | PEPATAH Persia mengatakan, “yang kering dan yang basah terbakar bersama” untuk menggambarkan bagaimana api yang mengamuk tidak memilih apa yang dilalapnya. Begitulah perang bekerja: ia menghapus batas antara yang bersalah dan yang tidak, antara yang agressor dan yang menjadi korban.
Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran bukan perang yang lahir dari keharusan, melainkan dari kesombongan dan pilihan sadar. Tidak ada alasan yang meyakinkan—tidak ada bukti bahwa Iran sedang mengejar senjata nuklir atau hendak melancarkan serangan. Dalil-dalil yang dikemukakan begitu lemah sehingga runtuh bukan hanya saat diuji, tetapi bahkan saat diucapkan berulang kali. Yang sebenarnya sedang terjadi adalah perwujudan obsesi lama kaum neokonservatif, sebuah agenda yang telah diperjuangkan Netanyahu selama puluhan tahun dalam berbagai bentuk. Ketika sanksi gagal, ketika sabotase, pembunuhan tertarget, dan perang siber tidak membuahkan hasil, maka kekuatan militer mentah menjadi jawabannya—dan pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei dijadikan puncak dari seluruh operasi.
Sejak awal, Trump dan Netanyahu tidak menyembunyikan ambisi maksimalis mereka: pergantian rezim. Namun soal rezim seperti apa yang akan menggantikan, mereka membisu—membiarkan dunia meraba-raba dalam kecemasan. Ironinya, kebijakan semacam ini pernah dikecam keras oleh Trump sendiri, yang berjanji akan mengakhirinya untuk selamanya. Tapi seperti halnya janji-janji dustanya yang lain memulihkan martabat kelas pekerja Amerika, sumpah itu dibuang begitu saja segera setelah ia kembali berkuasa.
Seperti kaset rusak yang diputar ulang dari era Perang Irak, kita kembali mendengar janji bahwa Republik Islam akan ambruk dengan mudah layaknya rumah kartu. Bedanya, kali ini bahkan tidak ada usaha serius untuk membangun narasi pembenaran—tidak kepada masyarakat internasional, tidak pula kepada Kongres AS sendiri. Pada tahun 2003, setidaknya ada upaya retorika untuk melegitimasi invasi, meski sarat kebohongan. Kini, upaya itu pun sudah ditanggalkan. Petinggi militer AS sendiri tidak mampu menjelaskan dengan meyakinkan bagaimana perang ini bisa dimenangkan secara cepat dan tuntas. Yang tersisa hanyalah keyakinan buta bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana—tanpa perlu repot-repot berargumen.
Absennya pembenaran ini bukan kelalaian biasa. Ia mencerminkan krisis mendalam dalam tatanan global. Klaim Amerika Serikat sebagai penjaga ”tatanan internasional berbasis aturan (international rules-based order)” sudah hancur berkeping-keping oleh genosida di Gaza, tetapi tidak ada sistem baru yang muncul untuk mengisi kekosongannya. Yang menggantikan justru adalah hukum rimba—imperialisme terang-terangan (naked imperialism) yang tidak memiliki legitimasi, baik di mata dunia maupun di dalam negeri sendiri.
Perang ini juga dibangun di atas pemahaman picik yang fatal tentang Iran. Memang benar, Republik Islam dipenuhi keretakan internal dan legitimasinya telah terkikis parah. Namun Iran bukanlah tirani satu orang yang bisa runtuh begitu pemimpinnya jatuh, seperti Irak di bawah Saddam Hussain atau Libya di bawah Moammar Gaddafi. Iran ditempa oleh perang delapan tahun melawan Irak—sebuah konflik di mana negara ini berdiri sendirian, kalah persenjataan, namun tetap tidak takluk, berkat perpaduan mobilisasi ideologis dan taktik perang asimetris. Dari pengalaman itu, Iran membangun sistem pertahanan yang berlapis dan tersebar: struktur komando yang tidak bergantung pada satu pusat, kapabilitas rudal dan drone, serta jaringan sekutu regional—semuanya dirancang persis untuk menghadapi skenario seperti sekarang, yaitu perang langsung melawan kekuatan militer yang jauh lebih besar. Mampu tidaknya Iran bertahan menghadapi mesin perang terbesar di dunia memang belum bisa dijawab pasti, tetapi mengharapkan keruntuhannya dalam hitungan hari pertama jelas sebuah khayalan.
Iran tampaknya tidak mengejar kemenangan cepat. Strateginya adalah membuat perang ini begitu mahal sehingga musuh tidak sanggup melanjutkannya. Bagi Teheran, ini bukan sekadar konflik militer—ini soal hidup-mati. Ketika lawan secara terbuka menyatakan ingin menghancurkan negara Anda, tidak ada ruang untuk berkompromi. Yang tersisa hanyalah bertahan selama mungkin dan menggerus musuh perlahan-lahan. Untuk skenario semacam inilah Republik Islam telah mempersiapkan diri sejak lama.
Terbunuhnya Ayatollah Ali Khamenei kemungkinan besar telah mengacak ulang dinamika kekuasaan di dalam negeri. Meski dikritik banyak pihak, termasuk dari dalam sistem sendiri, Khamenei selama ini berperan sebagai penyeimbang di antara faksi-faksi yang saling bersaing. Ia memang kaku, tetapi justru kekakuannya itu yang kerap menahan langkah-langkah yang lebih agresif, misalnya menyeret negara-negara Teluk, yang pada dasarnya adalah pos-pos terdepan kekuatan Amerika di kawasan, ke dalam medan pembalasan. Dengan hilangnya sosok penahan itu, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) kini memegang kendali penuh dan tampak bertekad menjalankan strategi yang lebih ofensif. Apakah langkah ini pada akhirnya akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri, waktu yang akan menjawab.
Tentu saja, semua ini tidak meniadakan kenyataan bahwa masyarakat Iran sendiri terpolarisasi secara mendalam. Kebencian terhadap rezim bukanlah hal baru—ia telah menumpuk selama bertahun-tahun akibat ekonomi yang salah kelola, korupsi yang merajalela, dan represi yang tak kenal ampun. Protes pasca-kematian Mahsa Amini pada 2022 dan pembantaian massal terhadap ribuan demonstran pada bulan Januari, telah memperlihatkan jurang yang menganga antargenerasi, antarkelas, dan antarideologi – jurang yang mungkin sudah terlalu lebar untuk dijembatani.
Namun perang memiliki logikanya sendiri yang tidak bisa ditebak. Orang-orang yang paling membenci pemerintahan ulama bisa saja tetap merasa tercabik melihat pesawat tempur asing membombardir tanah air mereka, apalagi ketika musuh secara terang-terangan mengumumkan niat untuk menghancurkan negara mereka. Agresi dari luar tidak menghapus luka-luka domestik, tetapi ia bisa menggeser urutan prioritas. Amarah terhadap rezim bisa untuk sementara tertutupi oleh amarah yang lebih mendesak terhadap agresor. Perpecahan yang tampak tak terpulihkan di masa damai bisa, di bawah hujan bom, berubah menjadi persatuan yang mungkin rapuh tetapi nyata. Kemampuan Republik Islam untuk menggalang rakyat memang sudah jauh merosot dari masa kejayaan revolusi, tetapi belum padam. Rezim ini masih piawai membingkai perang sebagai pertarungan peradaban dan pertahanan diri, menghidupkan kembali narasi kedaulatan, kesyahidan, dan perlawanan yang telah mereka rawat selama puluhan tahun. Narasi yang justru mendapat tenaga baru setiap kali rudal menghantam.
Warisan Khamenei sudah bermasalah jauh sebelum kematiannya. Sepanjang kepemimpinannya, terutama di tahun-tahun terakhir, ia mengarahkan Iran ke jalur sekuritisasi yang semakin ketat: gerakan reformasi dibungkam, Gerakan Hijau 2009 dihancurkan, pemberontakan Mahsa 2022-23 ditindas dengan kekerasan, dan daftar keluhan rakyat terus memanjang tanpa henti. Baginya, keamanan negara dan kelangsungan rezim selalu lebih penting daripada kebebasan sipil atau keterbukaan politik. Ia mengusung agenda konservatif yang terobsesi dengan ancaman ”serangan budaya (tahajom-e farhangi)” dari luar, sementara satu-satunya cakrawala yang ia lihat adalah bertahan hidup—sebagai rezim, sebagai negara, sebagai entitas merdeka—di kawasan yang telah menyaksikan kehancuran Irak, Libya, dan Suriah. Bagi jutaan warga Iran, harga yang harus dibayar untuk doktrin ini sudah terlampau tinggi, dan mereka sudah lama menolaknya.
Namun, ada dimensi lain yang tidak bisa diabaikan. Dalam tradisi politik Syiah, kematian di tangan musuh memiliki makna yang sangat khusus. Karbala dan gugurnya Imam Hussain bukan sekadar kisah sejarah—keduanya adalah bahasa hidup yang terus membentuk kesadaran politik dan keagamaan, di mana menderita karena kezaliman justru melahirkan kewibawaan moral. Terbunuh oleh kekuatan asing bisa mengubah seorang pemimpin yang kontroversial menjadi simbol pengorbanan. Dalam sejarah modern Iran, tidak ada preseden untuk ini. Naser al-Din Shah tewas di tangan pembunuh dalam negeri. Para raja Qajar terakhir mati di pengasingan Eropa, di Paris dan San Remo. Dinasti Pahlavi mengakhiri riwayat mereka jauh dari tanah air, di Johannesburg, Afrika Selatan dan Kairo, Mesir. Kematian Khamenei berbeda, ia akan dibingkai sebagai syahid yang gugur membela tanah air dari agresi asing. Dalam kematian, ia berpotensi memperoleh keagungan dan keutuhan citra yang tidak pernah dimilikinya semasa hidup.
Reaksi atas kematiannya pun terbelah tajam. Banyak warga Iran dan Suriah merayakannya secara terbuka, memandangnya sebagai berakhirnya rezim represif yang juga turut menyulut dan memperpanjang perang saudara di Suriah. Namun bagi para pengikut setianya, yang jumlahnya tidak bisa diremehkan, Khamenei lebih dari sekadar politisi. Ia adalah marja’ al-taqlid, otoritas keagamaan tertinggi yang menjadi rujukan. Memang, kedudukannya tidak setinggi Grand Ayatollah Sistani di Irak, tetapi pengaruhnya menjangkau jutaan umat Syiah di luar perbatasan Iran. Justru karena cara kematiannya, warisan yang selama ini diperdebatkan sengit di dalam negeri dan dicemooh di luar negeri bisa saja terselamatkan, bahkan terangkat ke tempat yang lebih tinggi dari yang pernah dicapainya semasa hidup.
Selama satu dekade terakhir, kemarahan rakyat Iran terhadap Khamenei diekspresikan secara gamblang dan personal melalui slogan-slogan jalanan: ”Matilah Khamenei/Death to Khamenei”; ’Matilah Diktator/Death to the Dictator”; ‘Ini adalah tahun berdasar, Sayyid Ali akan dijatuhkan/This is the year of blood, Sayyid Ali will be overthrown.” Kebencian itu tidak hanya ditujukan pada jabatan, melainkan juga pada orangnya. Khamenei bukan sekadar pemimpin politik yang kebetulan berkuasa besar dan gemar mengurus segala hal hingga ke detail terkecil—ia adalah personifikasi dari seluruh sistem. Maka, ironi terbesar dari tindakan Trump mungkin terletak di sini: alih-alih menghapus Khamenei dari panggung politik, pembunuhannya justru bisa mengabadikan sosoknya di sana, bukan lagi sebagai simbol kegagalan, melainkan sebagai martir di mata para pengikutnya.
Politik luar negeri Trump memang selalu penuh kontradiksi, berayun antara retorika penarikan diri dan penggunaan kekuatan secara berlebihan tanpa peringatan. Kali ini, dua arus yang biasanya bertentangan—naluri isolasionis paleokonservatif dan ambisi intervensionis neokonservatif—tampaknya melebur menjadi satu. Dan di balik peleburan itu, tangan Netanyahu terlihat jelas. Selama berpuluh-puluh tahun, ia tidak pernah berhenti berargumen bahwa hanya kekuatan militer yang bisa menjamin supremasi Israel di kawasan tanpa hambatan. Ketika Hizbullah melemah dan rezim Assad di Suriah runtuh, Tel Aviv membacanya sebagai bukti bahwa Iran sudah sekarat secara strategis. Bacaan ini tidak sepenuhnya salah—kedua pukulan itu memang menyakitkan bagi Teheran, dan Washington serta Tel Aviv bergegas memanfaatkan momentum. Tetapi mereka keliru jika mengira kekuatan Iran sepenuhnya bergantung pada sekutu-sekutunya—sekutu yang, ironisnya, banyak lahir justru karena tindakan berlebihan AS dan Israel sendiri. Pertahanan Iran juga bersifat internal: berlapis, tersebar, dan tidak bergantung pada satu titik. Kesalahan fatal para perancang perang ini adalah menyamakan kerusakan dengan kehancuran, dan tekanan dengan kekalahan.
Dampaknya kini sudah terasa dan menyebar ke mana-mana: rudal saling berbalas, pangkalan militer, hotel, dan pelabuhan diserang, jaringan sekutu di seluruh kawasan diaktifkan. Pejabat-pejabat Amerika sendiri mulai mengakui bahwa mereka tidak tahu berapa lama perang ini akan berlangsung, seberapa luas cakupannya, atau apakah mereka benar-benar siap mengirim pasukan darat ke dalam petualangan sembrono ini. Ini jelas bukan operasi bedah dengan hasil yang bisa diprediksi. Ini adalah konfrontasi yang terus membesar, yang batas-batasnya semakin kabur setiap harinya.
Perang ini tidak akan mengembalikan stabilitas. Ia akan mengguncang dan membentuk ulang kawasan dengan cara yang kejam dan tak seorang pun bisa meramalkan. Republik Islam mungkin akan keluar dari konflik ini dalam kondisi yang berbeda—lebih lemah, berubah bentuk, atau keduanya—tetapi dalam rupa yang belum bisa kita bayangkan sekarang. Yang jelas, harapan bahwa negara ini akan runtuh begitu saja di bawah gempuran militer sejak awal adalah fantasi. Negara yang dilahirkan dari revolusi dan dibesarkan dalam kepungan bertahun-tahun memiliki ketahanan yang tidak bisa ditaklukkan sekadar dengan dikte dari luar.
Dan sementara para strategis merancang skenario di ruang-ruang ber-AC, api perang tidak memilih korbannya. Di Minab, provinsi Hormozgan, seratus enam puluh lima lubang kubur telah digali—untuk jasad-jasad yang diangkat dari reruntuhan sekolah Shajareh Tayyebeh, yang dihantam rudal AS atau Israel pada Sabtu pagi, tepat ketika pelajaran baru dimulai. Mayoritas yang tewas adalah siswi-siswi berusia tujuh hingga dua belas tahun. Washington dan Tel Aviv berusaha mencuci tangan dari pembantaian ini, tetapi foto-foto kehancuran itu sudah terlanjur tersebar dan tidak bisa dihapus.
Trump menjanjikan perang yang hanya berlangsung beberapa minggu. Kepemimpinan Iran bersumpah akan bertempur sampai akhir. Sejarah mengajarkan bahwa perang-perang yang dipilih secara sadar hampir tidak pernah berhenti di batas yang direncanakan. Perang tidak hanya menghancurkan mereka yang berperang, tetapi juga meruntuhkan keyakinan-keyakinan yang menjadi alasan perang itu dimulai. Apa yang diniatkan untuk mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan ini bisa saja justru mempercepat hancurnya tatanan yang selama ini merasa berhak mencampuri urusan bangsa lain tanpa harus membayar harganya. (IndoProgress.com)
4 Maret 2026
By, Eskandar Sadeghi-Boroujerdi adalah penerima fellowship penelitian pascadoktoral dari Akademi Britania di Fakultas Studi Timur, Universitas Oxford, sekaligus asisten pascadoktoral di St Cross College, Oxford. Sebelumnya, ia juga pernah mengajar di Universitas Oxford, SOAS (School of Oriental and African Studies) University of London, serta Universitas Exeter.
Posting Komentar