"Viral di Medsos, Mahasiswa Berambut Gimbal Kritik Tajam Kebijakan Jaminan Kesehatan Aceh, Sebut Pengambil Kebijakan "Sakit Satu Kandang"
BANDA ACEH, KABEREH NEWS – Sebuah video kritik mahasiswa terhadap kebijakan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) viral di berbagai platform media sosial. Mahasiswa berpenampilan nyentrik dengan kaus berkerah dan rambut gimbal itu menyoroti lemahnya analisis Pemerintah Aceh dalam menentukan penerima subsidi kesehatan.
Peristiwa terjadi dalam sebuah forum pertemuan resmi di Aceh. Mahasiswa yang belum diketahui identitasnya itu hadir bersama rekan-rekannya dan langsung mencecar kebijakan JKA yang dinilai tidak populis dan tidak substansif.
“Kebijakan itu lahir dari kefakiran analisis. Tidak ada pengkajian mendalam mengenai definisi siapa yang berhak menerima JKA dan tidak,” ujarnya dalam video, mencampur bahasa Aceh dan Indonesia.
Puncak kritiknya adalah frasa Bahasa Aceh: “Saket ban saboh geureupoh”. Secara harfiah, geureupoh berarti kandang ayam. Frasa tersebut secara keras menyamakan para pengambil kebijakan dengan sakit satu kandang — ungkapan kemarahan atas kebijakan yang dinilai absurd, tidak berpihak, dan penuh anomali.
Abstraksi Kemarahan Publik
Frasa itu bukan sekadar umpatan. Ia menjadi abstraksi dari seluruh argumentasi mahasiswa tersebut. Menurut pengamat bahasa Aceh, geureupoh adalah tempat ayam berkumpul sore hari sebelum dikurung peternak agar selamat. Menyematkan kata saket atau sakit pada ban saboh geureupoh berarti menilai seluruh penghuninya bermasalah.
“Ini penegasan rasa kecewa, frustrasi, dan putusnya harapan masyarakat kepada elite,” kata seorang akademisi Unsyiah yang enggan disebut namanya, Jumat, 2 Mei 2026.
Diamnya Elite
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Aceh yang setara dengan tajamnya kritik tersebut. Frasa “saket ban saboh geureupoh” yang menggema di media sosial justru terkesan diabaikan.
“Elite mengira setelah hype di media sosial lewat, publik akan lupa. Padahal suara mahasiswa itu adalah kecaman sejarah bahwa mereka lalai mengurus hajat hidup orang banyak,” ujar sumber yang sama.
Ia menambahkan, persoalannya kini bukan lagi saket ban saboh geureupoh, tapi sudah ban saboh paya — istilah Aceh untuk rawa yang luas, menggambarkan masalah yang makin sistemik.(*)
Sumber: Alkaf (https://www.facebook.com/share/1CpSMeWJBT/)
Posting Komentar