Ancaman ini muncul sebagai respons langsung atas ultimatum 48 jam yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump pada Sabtu malam (21/03/2026). Trump menggertak akan "melumatkan" seluruh jaringan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya untuk pelayaran internasional dalam waktu dua hari.
Kemarahan Iran tidak hanya ditujukan kepada Washington, tetapi juga kepada negara-negara Arab di kawasan Teluk, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Teheran menuduh negara-negara tersebut telah bersekutu dan memberikan dukungan logistik bagi serangan udara gabungan AS-Israel yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.
"Setiap negara yang menyediakan wilayah, pangkalan militer, atau ruang udaranya bagi agresor untuk menyerang tanah Iran, akan kami anggap sebagai target sah," tegas pernyataan dari Markas Besar Militer Khatam al-Anbiya, Minggu (22/03/2026).
Iran menduga kuat bahwa beberapa serangan udara yang menghantam fasilitas gas mereka diluncurkan dari pangkalan-pangkalan militer AS yang tersebar di wilayah Teluk. Hal inilah yang memicu Iran untuk menargetkan infrastruktur sipil paling krusial di negara-negara tersebut sebagai bentuk "pembalasan setimpal."
Dalam pernyataannya, militer Iran secara spesifik menyebut akan menyerang:
Fasilitas Desalinasi Air: Negara-negara Teluk sangat bergantung pada pengolahan air laut untuk kebutuhan minum. Serangan pada fasilitas ini akan menyebabkan krisis air nasional secara instan.
Pembangkit Listrik dan Infrastruktur IT: Iran mengancam akan memutus aliran listrik yang tidak hanya akan mematikan penerangan, tetapi juga melumpuhkan sistem pendingin udara (AC) di tengah suhu gurun yang ekstrem, serta menghentikan operasional perbankan dan komunikasi.
Meski dituduh bersekutu, posisi negara-negara Arab sebenarnya sangat terjepit. Secara resmi, mereka telah melarang penggunaan wilayah mereka untuk menyerang Iran guna menghindari perang terbuka. Namun, serangan drone dan rudal Iran yang berulang kali "salah sasaran" ke wilayah Teluk dalam beberapa minggu terakhir membuat para pemimpin Arab mulai mendesak AS untuk mengambil tindakan lebih tegas guna melumpuhkan kemampuan militer Teheran.
Hingga berita ini diturunkan, harga minyak mentah dunia terus meroket melampaui rekor tertinggi akibat kekhawatiran pasar akan penutupan total Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi 20 persen pasokan energi global.
Dunia kini menanti dengan cemas saat hitung mundur ultimatum 48 jam Trump mendekati akhir. Jika tidak ada de-eskalasi, kawasan Timur Tengah terancam masuk ke dalam lubang konflik yang jauh lebih gelap. (*)
Posting Komentar