Dalam puasa, rumah korban banjir di Aceh masih tertimbun lumpur – 'Saya pelan-pelan bangkit sendiri, tanpa bantuan dari pemerintah'

Pidie Jaya, Aceh, Meureudu
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Akramul Muslim, Sejumlah warga membersihkan sisa endapan lumpur di halaman rumah miliknya di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Minggu (08/02).

ACEH, KABEREH NEWS -- Tiga bulan setelah Aceh diterjang banjir bandang, kehidupan sehari-hari masih jauh dari kata pulih. Lumpur yang mengeras setinggi pinggang orang dewasa masih melahap rumah-rumah warga di daerah Meureudu, ibu kota Kabupaten Pidie Jaya.

Di Aceh Tamiang, para warga menggambarkan permukiman mereka seperti wilayah yang habis terkena bom. Seisi kota diselimuti debu tebal yang berasal dari lumpur mengering.

"Kami ingin hidup normal lagi. Sekarang kalau keluar rumah, harus pakai masker dua lapis, kacamata, dan topi. Kami juga rindu melihat tanaman hijau dan langit biru," ucap Desrina Akmalia.

Sebelumnya Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, mengklaim pemulihan pascabencana di Sumatra berjalan dengan sangat cepat. Ia menilai kondisi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sudah lebih baik setelah dilanda banjir dan longsor.

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menyebut bantuan Rp4,7 triliun untuk korban bencana banjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar dicairkan pada pekan lalu.

Uang itu akan diberikan kepada penerima bantuan yakni pengungsi yang sudah diverifikasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

'Mau berharap pada siapa lagi?'
"Ini sudah mau bulan Ramadan, tapi tidak meriah…" "Biasanya seminggu sebelum mau puasa, orang-orang semangat ke pasar beli daging. Tapi sekarang sepi. Orang belanja untuk meugang enggak ada," ucap Arini Amalia dengan suara berat.

Meugang yang disebut Amalia adalah tradisi masyarakat Aceh jelang bulan Ramadan. Tradisi ini identik dengan kegiatan membeli daging, mengolahnya, dan menyantapnya bersama seluruh anggota keluarga sebagai simbol kebersamaan.

Tapi, pada tahun ini, nyaris tak nampak kemeriahan. Tak ada kemacetan di pasar-pasar seperti dulu.

"Besok lah kita lihat, banyak enggak orang di pasar," kata Amalia sekaligus menerangkan bahwa Kamis (19/02) menjadi hari pertama mereka puasa.

Perempuan 28 tahun ini bercerita, ia sekeluarga ingin sekali merayakan meugang. Hanya saja, uang yang dimilikinya menipis setelah hampir tiga bulan bertahan hidup setelah diterjang banjir bandang dan longsor.

"Dulu, kami sanggup beli daging dua kilogram, sekarang satu kilogram pun susah," ungkap warga yang tinggal di daerah Meureudu, ibu kota Kabupaten Pidie Jaya ini.

"Memang harus hemat-hemat, mau berharap sama siapa lagi? Bantuan juga kan sudah berkurang."

Rumah Arini Amalia di Meureudu, ibu kota Kabupaten Pidie Jaya, masih tertimbun lumpur pada Rabu (18/02).
Sumber gambar, Arini Amalia

Yang bikin tambah sedih, ia dan neneknya yang sudah menginjak kepala delapan masih harus mengungsi di tenda BNPB yang dipasang di depan rumah. Musababnya, rumah sang nenek juga warga lain terendam lumpur setinggi betis orang dewasa dan di luar rumah hampir sepinggang.

Untuk membersihkan lumpur yang mengeras itu, Amalia mustahil mengerjakan sendirian. Sementara, kalau menyewa ekskavator tidak murah, setidaknya Rp3 juta sehari.

Sementara itu, ekskavator dan tentara yang mondar-mandir di wilayahnya hanya membersihkan jalan raya dan fasilitas umum.

Dari foto dan video yang dibagikan Amalia kepada BBC News Indonesia, di sisi kanan-kiri jalan area rumahnya masih teronggok lumpur tebal yang melumat kayu-kayu berukuran kecil hingga besar.

Kalau hujan turun, jalanan jadi becek dan berlumpur, imbuhnya. Sungai yang mengalir di daerah itu juga kerap luber jika hujan deras lantaran kian dangkal.

Seisi kota bisa dibilang berwarna coklat dengan langit abu-abu.

"Ya Allah, kejadian (banjir) tanggal 26 November 2025, sudah hampir tiga bulan, kondisinya masih sama," keluhnya.

Kondisi jalan di permukiman warga di Meureudu, Pidie Jaya, pada Rabu (18/02) yang penuh lumpur.
Sumber gambar, Arini Amalia

Kondisi jalan di permukiman warga di Meureudu, Pidie Jaya, pada Rabu (18/02) yang penuh lumpur.

Soal air bersih, Amalia bilang masih sulit gara-gara PDAM setempat belum beroperasi. Air sumur bor yang baru dibikin juga keruh alias berwarna kuning kecoklatan.

Pemda setempat, katanya, sebetulnya menyediakan mobil tangki air yang bisa dipakai bersama-sama. Namun, sebagian warga kelelahan karena harus bolak-balik mengangkat air dari lokasi mobil tangki—yang jaraknya sekitar dua kilometer.

"Setiap hari angkat air, pasti capai. Makanya banyak yang kelelahan."

Jadilah warga, seperti Amalia, mengandalkan air hujan.

"Kami tampung air hujan untuk masak, karena lebih bersih dibandingkan air sumur. Meskipun kalau hujan, antara senang atau susah. Senangnya ada air bersih, susahnya takut banjir lagi."

"Pernah hujan deras, warga dekat sungai itu panik semua dan lari ke jalanan yang tinggi. Ketakutan karena masih trauma."

Berdasarkan pengamatannya, sebagian besar warga—termasuk dirinya—yang dulunya mengungsi di tenda-tenda halaman masjid, kini memilih pulang dan mendirikan tenda persis di depan rumah mereka.

Salah satu rumah warga di Meureudu, Pidie Jaya, pada Rabu (18/02) yang masih tertimbun lumpur. Warga harus membersihkan sendiri tumpukan lumpur yang telah mengeras itu.
Sumber gambar, Arini Amalia

Sebab, warga merasa tak kerasan berlama-lama di pengungsian. Apalagi sudah dekat bulan Ramadan, ingin dekat dengan keluarga.

Selain itu, sudah satu bulan warga tak lagi mendapatkan bantuan pangan dari pemerintah. Sedangkan pertanian warga hancur ditelan banjir bandang.

"Sawah ini tertimbun lumpur, kalau mau tanam padi ya susah harus dikeruk dulu," tuturnya sembari mengatakan warga yang rumahnya rusak parah atau hilang tersapu banjir sudah menetap di hunian sementara (huntara).

Amalia bercerita, di rumahnya masih tersedia stok beras. Tapi, dengan uang yang menipis, dia harus betul-betul berhemat membeli kebutuhan sehari-hari.

Janji pemerintah memberikan bantuan jaminan hidup (jadup) sebesar Rp15.000 per orang juga sampai sekarang belum pernah diterima.

"Sampai sekarang belum cair, enggak tahu kenapa," keluhnya.

'Macam habis kena bom debunya'
Di Kabupaten Aceh Tamiang, kemeriahan tradisi meugang juga takkan seramai tahun-tahun sebelumnya, kata Desrina Akmalia.

Ibu dua anak ini bercerita, setelah banjir bandang dan longsor memporak-porandakan wilayah tersebut, kehidupan warga masih sangat-sangat susah.

Rumahnya di Desa Durian, Kecamatan Rantau, rusak di segala sisi: dinding retak, pintu-pintu jebol, plafon hancur.

Ririn, begitu dia disapa, mengaku tak punya uang untuk memperbaiki rumahnya. Ia dan suami hanya berharap pada bantuan pemerintah.

"Katanya akan ada uang (pengganti) untuk rumah yang rusak. Tapi enggak tahu kapan cairnya," ujarnya.

"Kami kayak gini aja bertahan hidup dengan kemampuan yang ada. Kami tengok ada pendataan untuk bantuan, kami ikuti."

Suasana ruang guru SD Negeri 1 Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (25/1/2026).
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Ririn mengaku terpaksa tinggal di rumahnya yang nyaris tak layak huni itu. Sebab, menetap di tenda pengungsian berlama-lama lebih merana.

Jadilah, dia dan suami memperbaiki sebisanya.

Ia bilang cukup beruntung karena rumahnya tak tertimbun lumpur.

"Di tenda itu panas, kalau hujan becek. Apalagi saya punya anak berusia dua tahun dan empat tahun," imbuhnya.

Soal air bersih, Ririn mengatakan mengandalkan sumur bor lantaran air PDAM masih mengalami gangguan. Meskipun air sumur bor itu keruh dan berminyak.

"Ya dipakai untuk mandi saja, kalau minum beli air galon isi ulang. Sementara listrik sudah pulih pada minggu ketiga Desember," cetusnya.

Tapi yang paling ia keluhkan saat ini adalah debu tebal yang berasal dari lumpur mengering.

"Kalau tidak ada sawah, apa yang bisa dimakan?" – Nasib petani dua bulan usai bencana Sumatra, ribuan hektare sawah masih lautan lumpur 28 Januari 2026

Lebih dari 165.000 korban banjir Sumatra masih bertahan di pengungsian. (*)


Sumber: BBC

0/Post a Comment/Comments