KABEREH NEWS | JAKARTA -- Di balik senyuman pejabat dan laporan Global Safety Report 2025, tersembunyi pertanyaan besar: Benarkah Indonesia aman, atau kita hanya dibius oleh angka? Artikel ini membongkar anatomi "kebohongan jujur" dalam survei keamanan yang dilakukan oleh Gallup.
Pencari data bekerja dalam mode stealth, tanpa seragam atau atribut mencolok, menggunakan tablet canggih yang terkoneksi satelit GPS. Mereka mengetuk pintu rumah secara acak, dari gang sempit hingga perumahan elit, dengan hanya 1.000 orang yang dianggap mewakili 280 juta nyawa.
Kompleksitas kejahatan di Indonesia direduksi menjadi empat pertanyaan suci:
- Apakah Anda percaya polisi?
- Apakah Anda merasa aman jalan sendirian malam hari?
- Pernahkah uang Anda dicuri?
- Pernahkah Anda diserang fisik?
Pertanyaan ini disederhanakan, membuat jawaban menjadi bias, terutama di negara dengan budaya "ewuh pakewuh" yang kental.
Paradoks Negara "Keras"
Data Gallup memiliki cacat bawaan, tidak bisa membedakan antara "Kedamaian" dan "Ketakutan". Skor tinggi di Gallup tidak selalu berarti tidak ada penjahat, tapi mungkin karena negara telah berubah menjadi "Polisi Raksasa".
Siapa Dalangnya?
Laporan ini bukan produk lokal, tapi impor, dengan markas besar di Washington, D.C. dan "bos" di Singapura. Politisi kitalah pembelinya, melakukan teknik cherry-picking untuk memetik angka yang manis.
Epilog: Cermin yang Retak
Global Safety Report 2025 bukanlah cermin realitas, tapi filter Instagram untuk sebuah negara. Kita tidak butuh survei persepsi, tapi rasa aman yang tidak perlu ditanya, tapi bisa dirasa. (*)
Posting Komentar