Menjemput Harapan Baru : Mengakhiri Era "Broker Politik" Melalui Partai Gerakan Rakyat

Oleh : Teuku Muhammad Jamil, Dr. Drs, M.Si, Ph.D (Ketua Dewan Pakar Partai Gerakan Rakyat, Provinsi Aceh)

KABEREH NEWS | Tanggal 27 Februari 2026 bukan sekadar perayaan Milad bagi Ormas Gerakan Rakyat, melainkan sebuah proklamasi transformasi. Pasca Rakernas I di awal Januari lalu, keputusan untuk bertransformasi menjadi Partai Gerakan Rakyat (PGR) adalah respons atas dahaga publik akan kehadiran institusi politik yang tidak sekadar menjadi "kendaraan sewaan", tetapi menjadi laboratorium gagasan. Jum'at, 27 Februari 2026

Kehadiran sosok Anies Baswedan sebagai salah satu inisiator memberikan pesan simbolik yang kuat: bahwa partai ini harus berpijak pada rekam jejak, meritokrasi, dan keberpihakan pada keadilan sosial. Namun, transformasi ini memikul beban sejarah yang berat di tengah skeptisisme akut masyarakat terhadap partai politik.

Menutup Celah bagi "Residu" Politik dan Petualang Oportunis

Secara akademis dan praktis, penyakit utama partai baru di Indonesia adalah fenomena "Infiltrasi Residu". Kita harus waspada terhadap para petualang politik yang mencoba masuk ke PGR bukan karena kesamaan visi, melainkan karena mereka telah kehilangan panggung atau sedang mencari suaka politik akibat catatan buruk di masa lalu.

PGR tidak boleh menjadi "mesin cuci" bagi citra para politisi bermasalah. Kita harus menutup rapat pintu bagi:

Makelar Politik (Rent-Seekers): 
Mereka yang terbiasa menjadikan partai sebagai komoditas dagangan dan ruang transaksi gelap.

Politisi Karbitan:
Sosok instan yang hanya mengandalkan isi tas tanpa pernah berkeringat di jalur pengabdian intelektual maupun sosial.

Eksodus Oportunis:
Mereka yang memiliki "rekam jejak hitam" di partai sebelumnya—baik secara etika maupun hukum—dan kini mencoba mencari "sekoci" baru untuk menyelamatkan kepentingan pribadi.

Partai Gerakan Rakyat harus menetapkan standar filtrasi yang radikal. Jika kita membiarkan sel-sel kanker dari masa lalu masuk, maka PGR hanya akan menjadi "wajah baru dengan penyakit lama". Kita tidak sedang membangun kerumunan, kita sedang membangun barisan.

Kritik Atas Budaya Politik Transaksional:
Selama ini, demokrasi kita dibajak oleh logika pasar. Partai sering kali menjadi sekadar "kendaraan menuju kekuasaan" (vehicle for power) yang bisa disewa oleh siapa pun selama harganya cocok. PGR harus berdiri di atas fondasi yang berbeda. Sebagai Dewan Pakar, saya menekankan bahwa partai ini harus dibangun dengan fundamen yang kokoh:

Filtrasi Integritas:
Rekrutmen tidak boleh hanya berbasis popularitas semu, melainkan audit rekam jejak yang ketat.

Politik Berbasis Nilai: Memutus rantai "mahar politik" yang menjadi akar korupsi kebijakan.

Cahaya di Tengah Kegelapan:
Di saat partai lain terjebak dalam pragmatisme sempit, PGR harus menawarkan narasi pembangunan yang berorientasi pada masa depan manusia, bukan sekadar statistik pertumbuhan.

Harapan Besar untuk Bangsa:
Kita menginginkan PGR menjadi oase. Sebuah partai yang menawarkan "suasana berbeda"—di mana diskusi meja makan rakyat lebih didengar daripada bisikan para cukong. Kita tidak ingin PGR hanya menjadi kendaraan untuk mencapai tujuan kekuasaan semata; PGR harus menjadi tujuan itu sendiri sebagai sarana edukasi politik bangsa.

Semoga di usia baru Ormas ini, dan di langkah awal sebagai Partai, Gerakan Rakyat tetap setia pada khitahnya: Bergerak bersama rakyat, untuk mandat yang bermartabat, tanpa kompromi terhadap para perusak demokrasi.

Kutaraja, Jum'at, 27 Februari 2026

0/Post a Comment/Comments