IRGC beri peringatan 30 menit kepada USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy yang melintas saat negosiasi damai AS-Iran di Pakistan, Sabtu (11/4)
JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengancam akan memberikan “tanggapan keras” terhadap dua kapal perusak Amerika Serikat yang melintasi Selat Hormuz, Sabtu (11/4). Militer Iran menegaskan bahwa kendali atas jalur pelayaran vital tersebut sepenuhnya berada di tangan Teheran, bukan Washington.
Dua kapal perusak berpeluru kendali AS, USS Frank E. Peterson (DDG 121) dan USS Michael Murphy (DDG 112), melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (11/4) sebagai bagian dari misi pembukaan jalur aman dari ranjau laut. Ini merupakan pelintasan pertama kapal perang AS di selat tersebut sejak perang dimulai enam pekan lalu.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan kedua kapal tersebut beroperasi untuk “menetapkan kondisi pembersihan ranjau” yang sebelumnya dipasang oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyebut AS mulai membangun “jalur baru” yang akan dibagikan ke industri maritim guna menjamin kebebasan arus perdagangan.
Presiden AS Donald Trump mengklaim pengerahan kapal bertujuan membersihkan ranjau dan memastikan Selat Hormuz bebas dilintasi. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut AS melakukan hal itu “sebagai bantuan untuk negara-negara di dunia” karena banyak negara “tidak punya keberanian atau kemauan” melakukannya sendiri. Ia juga menegaskan Selat Hormuz adalah jalur internasional yang harus terbuka.
Iran langsung membantah klaim tersebut. Melalui mediator Pakistan, Teheran memperingatkan bahwa jika kapal AS terus bergerak, maka akan ditarget dalam 30 menit dan negosiasi damai AS-Iran akan terganggu. IRGC bersumpah memberi tanggapan keras dan menegaskan kedaulatan Selat Hormuz berada di tangan Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei turut mempertegas ancaman. “Kapal perang AS adalah senjata hebat, tapi tak ada apa-apanya dibanding kekuatan yang bisa menenggelamkannya,” ujarnya saat Iran melakukan uji tembak rudal ke arah Selat Hormuz.
CNN melaporkan, dua sumber intelijen AS menyebut Iran telah mulai menebar sejumlah kecil ranjau di Selat Hormuz tak lama setelah perang dimulai. Namun analis menilai dua kapal perusak AS kemungkinan tidak melakukan penyapuan ranjau langsung. Tugas itu lebih mungkin dilakukan drone bawah laut, kapal tempur litoral, dan helikopter.
Pelintasan kapal perang AS terjadi bersamaan dengan pertemuan delegasi AS dan Iran di Pakistan untuk membahas gencatan senjata. CENTCOM menyebut operasi ini sebagai misi “kebebasan navigasi” di perairan internasional untuk meyakinkan kapal komersial bahwa jalur tersebut aman.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Setiap gangguan di selat ini berpotensi memicu dampak ekonomi dan geopolitik global. (Red)
Catatan Redaksi: Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan insiden kontak senjata antara kapal AS dan militer Iran di Selat Hormuz.
Posting Komentar