"Tulisan ini merupakan opini penulis berdasarkan analisis geopolitik dan ekonomi global dari berbagai sumber"
KABEREH NEWS | OPINI -- Dominasi dolar Amerika Serikat (AS) dalam sistem keuangan global telah menjadi topik perdebatan yang hangat dalam beberapa tahun terakhir. Venezuela, dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, menjadi salah satu contoh bagaimana negara-negara lain mulai mencari alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Sistem petro dolar, yang berakar pada kesepakatan AS dan Arab Saudi pada 1974, telah menjadi fondasi utama dominasi dolar AS. Namun, sistem ini mulai menunjukkan retakan struktural, dengan porsi dolar AS dalam cadangan devisa global menurun dari sekitar 71 persen pada akhir 1990-an menjadi sekitar 58 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Venezuela, di bawah kepemimpinan Presiden Nicolas Maduro, telah menyatakan niat untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan mengarahkan perdagangan minyak ke mata uang lain seperti yuan dan euro. Langkah ini memiliki makna simbolik yang kuat, karena Venezuela menempatkan dirinya di garis depan tantangan terhadap dominasi dolar AS.
Namun, Amerika Serikat (AS) telah menanggapi langkah Venezuela dengan tekanan politik dan ekonomi, termasuk sanksi ekonomi dan tuduhan keterlibatan dalam kejahatan lintas negara. Namun, banyak pengamat menilai bahwa tekanan AS terhadap Venezuela lebih terkait dengan kepentingan geopolitik dan ekonomi AS daripada isu demokrasi dan hak asasi manusia.
Venezuela berfungsi sebagai cermin yang memperlihatkan retakan pada dominasi dolar AS yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Upaya mempertahankan status quo melalui tekanan politik dan ekonomi justru berpotensi mempercepat pencarian alternatif oleh negara-negara lain.
Dalam jangka panjang, dominasi dolar AS mungkin tidak dapat dipertahankan, dan sistem keuangan global mungkin akan bergeser ke arah yang lebih multipolar, dengan beberapa mata uang besar memainkan peran penting. (*)
Posting Komentar