Oleh: Noorhalis Majid
KABEREH NEWS | OPINI -- Lagi, ada aparat bertindak jadi keparat. Belum lupa kasus sebelumnya dan sebelumnya lagi, terulang kasus yang hampir serupa. Digauli, disiksa, dibunuh dan dibuang. Mestinya melindungi, justru menganiaya, menghilangkan nyawa orang.
Warga tersentak kaget, mengira tindakan begal, rampok atau preman sadis seperti di film-film barbar. Lingkungan terasa mencekam, mengkhawatirkan, bahkan menakutkan. Nyatanya sang pelaku justru aparat. Kesadisannya melebihi keparat.
Tanda apa ini? Orang bijak berpendapat, kebobrokan suatu zaman, terlihat nampak ketika pengayom jadi penjahat, penasehat dan penganjur moral kebaikan jadi pelaku kejahatan. Aparat, malah jadi keparat.
Hari-hari ini, tontonan membingkungkan lagi menakutkan tersebut terlihat nampak. Ada oknum tentara membunuh pacar. Oknum polisi membunuh teman dekat. Oknum dosen melecehkan mahasiswanya. Oknum anggota senator sesukanya melecehkan perempuan. Malah ada rombongan oknum jaksa, sang penuntut kejahatan, justru beramai-ramai korupsi.
Bayangkan kalau ini “puncak gunung es”, jangan-jangan kejahatan, tindakan a-moral, korupsi, perbuatan bejat dan mesum, sudah jadi habit semua lapisan tanpa kecuali. Kepada siapa berharap?
Kalau ditarik jauh ke belakang, mungkin ada problem mental yang sedang mengidap anak bangsa. Bila problem mental tersebut melanda aparat, jadilah dia keparat sadis. Sebab kewenangan, kekuasaan, wibawa dan pengaruh, melekat utuh padanya. Dengan mental yang busuk, kesadisannya melebihi apapun.
Adakah lembaga penganjur dan penjaga moral seperti majelis-majelis agama, lembaga pendidikan, lembaga adat dan budaya, dan sebagainya, gelisah menyaksikan ini?
Kalau gelisah, adakah gerakan bersama untuk merevolusi mental anak bangsa, agar tidak semakin mengkhawatirkan. Siapa yang mau mengambil inisiatif melakukan gerakan bersama tersebut? Tentu tidak cukup hanya dengan perbaikan gizi melalui MBG, yang lebih utama dan mendasar, bahkan mendesak adalah mental. Percuma gizi diperbaiki, tapi mentalnya busuk, akhirnya MBG justru dikorupsi, menjadi bancakan aparat itu sendiri.
Bagaimana, dan dengan cara apa pembenahan mental bisa dilakukan? Mari duduk bersama merumuskannya dengan kepala dingin. Bicara dari hati ke hati. Dari kedalaman perenungan dan pemikiran. Dari segala kearifan dan kebijaksanaan yang dimiliki. Bukan bicara atas dasar kekuasaan, kepongahan pengaruh dan uang, tapi dari kejernihan berpikir dan ketulusan hati. Sebab masalah besar dan mendasar, tidak mungkin dijawab dengan cara instan, apalagi dengan cara sombong. (Noorhalis Majid)
Posting Komentar