MENGAPA SENYUM DAN TAWAKU TERASA TAK MENAMPAKKAN KECERIAAN

Oleh :
T.M. Jamil
Akademisi - USK - Banda Aceh.


Pengantar :
Selama Kita Masih Hidup Tidak Ada Hukuman ; Yang Ada Adalah Peringatan Agar Kita Memperbaiki Diri Untuk Menjadi Yang Terbaik. Keberhasilan Yang Tertunda Di Ramadhan Yang Lalu, Dan Ibadah Yang Belum Tersampaikan Di Ramadhan Lalu, Semoga Bisa Diraih Di Ramadhan ini. Semoga Semua Harapan Dan Mimpi Yang Belum Jadi Kenyataan, Semoga Terwujud Di Tahun dan Ramadhan Serta Idul Fitri Ini.

----------------

ENTAH MENGAPA setiap menjelang akhir Ramadhan, hati ini selalu berkecamuk antara perasaan senang dan bahagia. Rasa senang dan bahagia karena Allah Swt telah memberikan kesempatan untuk dapat menikmati Ramadhan ini dengan banyak hal. Namun dibalik itu juga terbersit rasa takut dan penyesalan karena terlalu banyak hal yang belum tuntas untuk bisa diwujudkan sebagai bentuk pengabdian kepada-Nya. Astargfirullahal ‘Adhiem.

Bagaimanapun kenyataannya manusia tidak akan pernah lepas dari tanda tanya kehidupan yang selalu mengiringi perjalanan hidup. Waktu terkadang tidak mampu untuk menjawab semua pertanyaan yang ada pada cerita kehidupan manusia. Banyaknya persoalan hidup yang di hadapi satu persatu seakan-akan berlalu begitu saja hanya karena memikirkan yang tidak pasti. Begitu juga ketika telah mendapatkan sesuatu, terkadang juga masih ada yang kurang dalam hidup. Tidak tahu apa yang sebenarnya yang benar-benar ingin di tempuh. Semua itu akan membuat apa yang telah ada tidak bisa dirasakan dengan penuh rasa kesyukuran. Semua itu akan membuat hidup terasa sepi dan sunyi, seakan-akan orang sekitar hanyalah robot yang tidak punya perasaan. Alam yang indah terasa tidak bersahabat. Melihat gerak geriknya aktivitas kehidupan sekitar membuat diri merasa di asingkan dan tidak pantas untuk berada di tempatnya.

Saudaraku, sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka menyukai sesuatu yang bisa menyenangkan hati dan menentramkan jiwa mereka. Oleh sebab itu, banyak orang rela mengorbankan waktunya, memeras otaknya, dan menguras tenaganya, atau bahkan kalau perlu mengeluarkan biaya yang tidak kecil jumlahnya demi meraih apa yang disebut sebagai kepuasan dan ketenangan jiwa. Namun, ada sebuah fenomena memprihatinkan yang sulit sekali dilepaskan dari upaya ini. Seringkali kita jumpai manusia memakai cara-cara yang dibenci oleh Allah demi mencapai keinginan mereka.

Ada di antara mereka yang terjebak dalam jerat harta. Ada yang terjebak dalam jerat wanita. Ada yang terjebak dalam hiburan yang tidak halal. Ada pula yang terjebak dalam aksi-aksi brutal atau tindak kriminal. Apabila permasalahan ini kita cermati, ada satu faktor yang bisa ditengarai sebagai sumber utama munculnya itu semua. Hal itu tidak lain adalah karena manusia tidak lagi menemukan ketenangan dan kepuasan jiwa dengan berzikir dan mengingat Rabbi.
TIDAK TERASA Jam ke Jam, hari ke hari, dan minggu ke minggu sudah berjalan dan terus mendekati pertengahan bulan dan kini menuju akhir Ramadhan 1445-H. Begitu juga dengan Tahun ini akan mendekati akhir. Hari-hari yang telah kita lalui menjadi panduan bagi kita untuk kembali menata bulan baru yang akan datang. Banyak kegiatan yang telah dan belum kita lakukan, ada yang berhasil dan tidak sedikit pula yang gagal. Bulan ini pun semakin mendekat untuk menyambut kembali Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1445-H.

Pernahkah Saudaraku merasakan hati yang hampa dan kosong? Hidup terasa hanya rutinitas belaka dan penuh sandiwara? Pernahkah kita merasa bahwa ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan ini? Ketika kita menyadarinya, seringkali kita tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya merenung dan meratap. Entah harus berbuat apa, yang jelas kita tidak bisa melawan arus hidup kecuali hanya mengikutinya saja. Kalau ditelusuri lebih dalam, sesungguhnya kehilangan yang paling nyata dalam hati kita adalah lenyapnya sinyal ke-Tuhan-an yang biasa terakses dengan baik. Allah Swt pemilik diri kita, seluruh jiwa raga kita dan seluruh apa saja. Itu semua telah tertulis dalam kitab Suci-Nya Al-Qur'an yang mulia.

Tatkala kita terlalu sibuk mengejar dunia dengan melupakan akhirat, memang kita seakan-akan dapat menguasai dunia, atau dunia sudah berada dalam genggaman kita. Tetapi masih saja ada sisi ruang hati yang tetap terasa kosong. Mengapa? Itulah tempat cahaya Allah bersemayam. Nilai-nilai ketuhanan dan kebutuhan akan kekuatan yang maha dasyat berada. Tempat ini terus mencari kesempatan untuk diisi. Ibarat anak kecil yang kehausan, ia akan merintih, menangis, dan bahkan meraung kesakitan akibat tidak terpenuhinya kebutuhan ini. Subhanallah...

Ya, ketika hati ini Hampa. Saat-saat atau ketika kita merasa tidak berguna. Saat kita merasa tidak puas dengan kehidupan. Tidak puas dengan apa yang kita raih. Kadang juga karena bingung dengan segala yang terjadi dalam hidup kita. Hampa juga bisa karena ketidakpuasan kita atas respon orang lain atas diri kita, sehingga kita merasa tidak berharga, dan tidak berguna. Walhasil, kita sedih, merana, dan bingung dengan kehidupan kita sendiri. Na’uzubillahi Min Zhalik.

Saat seperti ini, yang dibutuhkan adalah kesadaran akan makna eksistensi kita. Kita harus menyadari bahwa setiap kondisi yang kita hadapi adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Karena memang kenyataannya kita sering tidak berkuasa atas diri kita sendiri. Kita tidak kuasa atas kehendak dan hati kita. Tuhan menciptakan kita dengan berbagai kondisi, agar kita sadar bahwa ketergantungan kita atas Tuhan sangatlah nyata. Itu sebabnya tidak bisa kita berlaku sombong dan merasa bisa lepas dari Tuhan. Mengakui ketidakberdayaan diri adalah bagian daripada keimanan kita kepada Sang Pencipta Yang Maha Agung.

Kesadaran akan ketergantungan kita akan kekuasaan Tuhan, akan menjadikan kita kuat menahan emosi atas segala kondisi yang kita hadapi. Kita tidak akan berputus asa atas rahmat Tuhan, meskipun kondisi yang sedang kita hadapi tidaklah seperti apa yang kita inginkan. Di sinilah kekuatan spiritual kita bagi kehidupan ini. Itu sebabnya orang yang beriman dalam kondisi apapun, tetaplah optimis dan tidak berputus asa dalam menjalani hidup ini.

Naik turun keimanan kita ibarat air laut. Demikian juga kondisi hati kita. Kadang pasang, kadang pula surut. Saat surut adalah saat-saat kita mengalami krisis. Saat kondisi sulit, sedih, merasa tidak berguna adalah kondisi kritis kita dalam menjaga optimisme. Kondisi ini sering menjadikan kita merasa lelah, merasa bingung dengan langkah hidup. Kebingungan inilah yang membuat kita stagnan, berhenti melangkah. Kadang malah kita ingin menyerah, ingin berhenti dan mengalah begitu saja. Padahal itu semua bukanlah solusi yang tepat. Kita terjebak pada kepasrahan.

Saat-saat seperti inilah kita memerlukan dorongan dari luar diri kita. Kita membutuhkan orang lain untuk mendorong kita yang sedang “mogok”. Saat-saat seperti ini mesin penggerak dalam diri kita sedang tidak bekerja seperti semestinya. Hati kita gundah, pikiran kita kalut, jiwa kita bingung dan badan kita pun menjadi lemah. Kondisi seperti ini sering terjadi pasang surut dalam kehidupan kita. Saat kondisi ini terjadi kitapun menjadi seolah tidak berdaya untuk bangkit.

Saat dalam kondisi “mogok”, yang dibutuhkan dalam diri kita adalah bertahan. Kita harus bersabar dengan segala kondiri yang kita hadapi sambil berdo’a akan ada kekuatan dari luar diri kita yang bisa mendorong dan memberi energi bagi jiwa, pikiran dan hati kita. Jika pun sampai pada titik tertentu kita belum mendapatkan rangsangan dari luar, maka kita tetap harus bersabar. Karena pada waktunya Tuhan akan membisikkan dalam jiwa kita, sehingga kita bisa bangkit, merangkak dan berjalan secara perlahan. Kekuatan inilah yang kadangkala sering kita rasakan dalam kehidupan. Setelah mengalami kemandegan, kita bisa bangkit secara perlahan meskipun kadang kita tidak menyadari dari mana kekuatan itu datang.

Padahal diri kita ini — terlahir ke dunia dengan membawa tangisan dan berlumuran darah, tidak mengenal apa itu dosa dan nista. Akankah Bulan Ramadhan di tahun ini nanti segala dosa yang telah kita perbuat selama perjalanan tahun ini, dan bahkan selama menjalani hidup dan kehidupan ini akan terhapus dengan begitu saja dengan keampunan dan Kasih Sayangnya Allah? Wallaahu ‘aklam. Saya sendiri berharap dan berdo’a kepada Allah Yang Maha Rahim, semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu. Amin3x, Yaa Rabba ‘Alamin.

Sementara itu, sudah terlalu banyak kesalahan dan dosa yang telah aku lakukan, bukan karena khilaf atau ketidak-sengajaan sebuah dosa dan kesalahan sering terjadi. Kebodohan dan keteledoran dalam memahami arti hidup dan kehidupan ini telah membawa diri ini terpuruk dalam perbuatan hina dan berlumur dengan dosa. Kapankah diri ini bisa memahami sebuah makna hidup dan pengabdian kepadaMU? Kapankah aku bisa menjalankan sebuah kewajiban dan perintahMU tanpa beban, tapi sebagai suatu kebutuhan yang harus dilaksanakan tanpa ada rasa beban dan keterpaksaan? Sungguh — terasa sulit diri ini untuk memahami “makna wajib dan dan tidak wajib”. Tarasa sulit untuk menjalani tanggung jawab sebagai manusia yang harus berbakti dan mengabdi kepada sang Khalik — Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Adil.

Apakah karena dosa-dosa yang telah menjadikan hati ini beku? Apakah pancaran cahaya-MU tidak dapat meleburkan kebekuan hati ini untuk memahami arti sebuah makna. Shalat yang aku lakukan serasa hanya shalat tanpa makna, sekedar gugur sebuah kewajiban. Kenapa sulit diri ini untuk mengenal hal itu. Bahwa sesungguhnya itu adalah kebutuhan diri, suatu cara untuk menenangkan diri, menentramkan jiwa. Apakah karena hal itu aku belum bisa merasakan ketenteraman jiwa? Mengapa, Senyum dan tawaku terasa hambar dan tidak menampakkan keceriaan?

Mohon maaf kepada semua sahabat, kakanda dan adik-adikku yang baik hatinya, ini bukanlah curhat atau keluhan, tulisan ini hanyalah ingin menulis apa yang ada dalam pikiranku saat ini. Mohon maaf jika segala sesuatu kurang berkenan di hati pembaca media ini yang mulia. Karena Memang itulah aku, yang dikenal dengan sikap ‘’egois’’ berlebihan yang telah menyombongkan diri dalam kehidupan ini, padahal tanpa ada yang pantas untuk disombongkan dan dibanggakan. HANYA Tuhanlah yang pantas untuk di-Agungkan dan di-muliakan.

Ya Allah, berikanlah kekuatan untuk kami dan keluarga agar kami bisa untuk lebih memahami dan memakanai arti hidup ini — Jangan biarkan diri kami ini berlumpur dengan noda dan dosa. Limpahkanlah cahaya-MU Ya Allah — agar hidup kami, keluarga besar kami dan sahabat-sahabat kami selalu berada di jalan yang benar – Jalan yang Engkau Ridhai. Amin3x, Yaa Mujibassailin.


Kota Madani, 03 April 2024.
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.