KOTA MADANI, HUMANIS DAN ISLAMI : 819 TAHUN KOTA BANDA ACEH

Oleh :
Irwanda M. Jamil, S.Ag.
Kabid. Dakwah DSI Kota Banda Aceh.


Kota Bada Aceh, juga dijuluki sebagai Kota Madani pada tanggal 22 April 2024 telah mencapai usia 819 tahun. Bagi beberapa masyarakat Aceh, mungkin Banda Aceh menyimpan banyak kenangan. Ada kisah perjuangan karir di sana, bahkan ada peristiwa yang tidak dapat dilupakan dalam mencerdaskan anak bangsa dan memuliakan tanah air. Perjalanan Kota Banda Aceh yang dapat disebut humanis dan islami sejatinya bukan hadir begitu saja atau langsung jatuh dari langit. Tentu hal tersebut terdapat banyak peran dan partisipasi publik dalam membangun Kota Banda Aceh, ada peran masyarakat, ulama, pelaku sejarah, pedagang, birokrat dan penguasa.

Silih bergantinya pemimpin di Kota Banda Aceh tetap menjadikan Kota Banda Aceh yang semakin humanis dan islami. Lantas mengapa dapat dikatakan sedemikian? Jawabannya tentu beragam, di antaranya adalah Kota Banda Aceh dihuni oleh dominasi masyarakat yang terdidik, kreatif dan mandiri. Kemudian, disebut Islami karena masyarakat Banda Aceh identik dengan memegang teguh prinsip syariat Islam, baik dalam urusan birokrasi hingga aktivitas bermasyarakat. Meskipun pada dasarnya Kota Banda Aceh tidak dapat dipisahkan dari apa yang disebut sebagai titik sejarah kekhususan penerapan syariat Islam di Aceh.

Jika ditelusuri pemaknaan Kota Banda Aceh dari setiap momen memperingati hari ulang tahunnya, begitu juga setiap masa kepemimpinannya, terdapat dua nilai yang tidak pernah terlupakan. Dua hal tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah nilai humanis dan islami. Dalam konteks inilah penulis berusaha menyampaikan bahwa bahan bakar utama dalam menggerak Kota Banda Aceh agar semakin maju adalah faktor humanis dan islaminya.

Tentunya makna humanis dalam konteks membangun Kota Banda Aceh tidaklah bermakna sempit, namun demikian makna humanis dalam membangun Kota Banda Aceh bersifat universal. Misalnya bagaimana Kota Banda Aceh semakin maju dalam hal penerapan nilai-nilai humanis dalam melayani kepentingan publik, humanis dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah, hingga humanis dalam membangun insfrastruktur kota.

Humanis bukan berarti menginginkan kepentingan manusia secara bebas tanpa ada aturan. Ciri khas humanisnya Kota Banda Aceh tetap berada dalam payung keislaman. Turunan penerapan syariat Islam di Kota Banda Aceh paling tidak telah mempengaruhi kadar praktik humanisnya Kota Banda Aceh di lintas sektor. Banda Aceh, Kota Yang Bersyariat.

Sebagai ibukota Provinsi Aceh, Kota Banda Aceh adalah kota administratif, kota pelajar dan mahasiswa yang banyak didatangi oleh para perantauan. Juga didatangi oleh wisatawan, baik dari warga lokal maupun manca negara. Sehingga Kota Banda Aceh bukan kota pertanian atau kota pertambangan. Maka dari itu, peran penerapan syariat Islam secara moderat, universal sangat menentukan kemajuan Kota Banda Aceh hari ini dan ke depan.

Dalam konteks ini pula barangkali kita tidak dapat pungkiri bahwa kualitas peneraman syariat Islam di Banda Aceh tidak dapat dilepaskan dari kemajuan Kota Banda Aceh. Massifnya penerapan syariat Islam di Kota Banda Aceh, maka massif pulalah sisi-sisi kemajuan di Kota Banda Aceh, demikian pula sebaliknya.

Mencermati usia Kota Banda Aceh, semakin bertambah usianya, tampak semakin berkembang pula cara pemimpin dan mengayomi masyarakat Kota Banda Aceh. Semakin “menuanya” Kota Banda Aceh tidak mengakibatkan berkurangnya produktivitas kota dalam mendorong kesejahteran masyarakat. Hal ini terbukti bagaimana Pemerintahan Kota Banda Aceh terus menggarap kebijakan-kebijakan ekonomi yang berpihak terhadap masyarakat. Dalam pemaknaan inilah penulis sebut bahwa Kota Banda Aceh humanis dan islami dari sektor kebijakan ekonomi.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa berkembang pesatnya Kota Banda Aceh tidak lepas dari faktor kebijakan dan pembangunan oleh Pemerinah Provinsi Aceh. Hal ini menandakan bahwa Pemerintah Provinsi Aceh dengan Pemerintah Kota Banda Aceh selalu bersinergi dengan baik dalam mencapai visi untuk mensejahterakan masyarakat sesuai tugas, pokok dan fungsi masing-masing.

819 Tahun Kota Banda Aceh hari ini pertanda Kota Banda Aceh selalu dibangun atas dasar kesadaran sejarah dalam menatap masa depan. Nilai sejarah, budaya, petuah (nasehat) ulama selalu menjadi rujukan dalam menciptaka kebijakan baru bagi Kota banda Aceh dalam menyiasati bagaimana cara menyelesaikan presoalan-persoalan publik. Corak pengambilan kebijakan pembangunan kota yang tanpa melupakan sejarah inilah yang membuat Kota Banda Aceh selalu eksis dalam berbagai tantangan pergantian zaman.

Ke depan, Kota Banda Aceh akan menyambut apa yang disebut sebagai era generasi emas, bonus demografi, hingga spirit berbaikan iklim dunia yang semakin memanas. Apa yang terjadi di masa depan melaui prediktif secara sosiologis, jika dicermati kesiapan Kota Banda Aceh yang tidak lepas dari nilai humanis dan islaminya, maka secara prediktif sosilogis pula di masa depan Kota Banda Aceh akan semakin berprestasi dan berkemajuan.

Bagaimana tidak? Kota Banda Aceh hari ini sedang berusaha menerapkan kebijakan pelayanan publik yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan adaptif dengan perkembangan masa depan. Melalui tatakelola Kota Badan Aceh sedemikian bukan saja menjadikan Kota Banda Aceh lestari dengan sejarah, tetapi juga siap menyambut tantangan dan persoalan yang datang dari masa depan.

Sebagai bagian dari bidang dakwah di Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh, penulis memberikan pandangan bahwa corak dakwah atau penerapan Syariat Islam mesti terus diperkuat dan diperluas cakupannya, sehingga dampak dari penerapan syariat Islam di Kota Banda Aceh dapat menjadi daya pendonggrak tambahan bagi Kota Banda Aceh agar semakin sukses di masa depan.

Sederhananya, wujud kesuksesan Kota Banda Aceh dapat dilihat dari penyesuaian tantangan global dengan kebutuhan masyarakat mutakhir. Kota Banda Aceh yang sukses adalah kota yang dihuni oleh publik cinta nilai-ilai keislaman. Kota Banda Aceh adalah kota yang dikelola sesuai dengan prinsip taqwa. Kota Banda Aceh adalah kota dimana masyarakat, birokrat dan penguasa saling memegang teguh prinsip kasih sayang, saling peduli, saling menjunjung kebenaran dan ke adilan.

Dalam konteks ini pula tidak keliru rasanya menyebut bahwa makna logo Hari Ulang Tahun (HUT) ke 819 Kota Banda Aceh tampak visioner dengan mengusung makna “Banda Aceh yang humanis dalam mengimplementasikan nilai nilai Syariat Islam”. Akhirnya, melalui pesan yang tersirat dari logo HUT 819 tahun Kota Banda Aceh tersebut senantiasa akan menjadikan Kota Banda Aceh sebagai kota baltatun thoyyibatun wa rabbun ghofur. Amin ya rabbal’alamin (Redaksi).

Editor : TM. Jamil

0/Post a Comment/Comments