Delegasi Iran Tiba di Pakistan, Bawa Dua Syarat Kunci: Gencatan Senjata Lebanon dan Pencairan Aset $7 Miliar



ISLAMABAD, PAKISTAN -- Delegasi tingkat tinggi Iran tiba di Pakistan Sabtu pagi, 11 April 2026, untuk memulai negosiasi krusial dengan Amerika Serikat. Kedatangan ini terjadi satu jam setelah Iran mengonfirmasi dua prasyaratnya dipenuhi: jaminan gencatan senjata di Lebanon dan pencairan aset Iran senilai 7 miliar dolar AS yang selama ini dibekukan di bank Qatar.

Dua poin tersebut menjadi syarat mutlak Tehran sebelum bersedia mengirim delegasi ke Islamabad. Tanpa pemenuhan keduanya, negosiasi dipastikan tidak akan dimulai.

Delegasi Lengkap, Dipimpin Ketua Parlemen

Rombongan Iran datang menggunakan dua pesawat Meraj. Delegasi dipimpin Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf. Turut serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Mohammad Baqer Zolhadr, Penasihat Dewan Keamanan Ali Akbar Ahmadian, Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati, dan sejumlah anggota parlemen.

Saling Ancam Warnai Pembukaan

Meski negosiasi baru dimulai, ketegangan langsung mengemuka. Mantan Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi serangan lebih keras jika kesepakatan gagal dicapai. 

Dari pihak Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa kegagalan perundingan berarti Tehran akan melancarkan perang yang lebih luas tanpa membuka ruang negosiasi lanjutan.

Kepentingan AS: Nuklir dan Selat Hormuz

Sumber diplomatik menyebut Washington membawa dua agenda utama ke meja perundingan: program nuklir Iran dan keamanan Selat Hormuz. Isu nuklir menjadi perhatian khusus atas permintaan Israel. Sementara Selat Hormuz terkait langsung dengan kepentingan ekonomi dan militer AS di kawasan.

Iran saat ini menyimpan 440,9 kg uranium yang telah diperkaya hingga 60%. Jumlah itu cukup untuk membuat 12 hulu ledak nuklir. Uranium tersimpan di tiga fasilitas utama: Natanz, Isfahan, dan Fordow. Serangan AS-Israel dalam perang 12 hari sebelumnya hanya merusak 30% fasilitas di Isfahan. Sisanya masih di bawah kendali penuh Iran.

Iran: Pengayaan Uranium Tidak Bisa Ditawar

Tehran menegaskan hak pengayaan uranium adalah simbol kedaulatan yang dipertahankan selama 48 tahun dan tidak dapat dinegosiasikan. Selain nuklir, program rudal balistik Iran juga masuk agenda atas permintaan Israel. 

AS Dianggap Butuh Kesepakatan

Pengamat menilai negosiasi ini lebih mendesak bagi Washington untuk mengamankan kepentingan jangka panjangnya di Timur Tengah. Di sisi lain, posisi Israel disebut ingin agar perundingan gagal karena merasa dirugikan di lapangan.

AS disebut gagal menyita uranium Iran lewat Operasi Isfahan pekan lalu. Operasi itu memakan korban besar di pihak AS, sementara uranium Iran tetap utuh.

Saling Tidak Percaya Tinggi

Iran menyatakan tetap hadir sebagai itikad baik terakhir, meski menegaskan tidak percaya pada rekam jejak negosiasi AS. Tehran menyebut akan fleksibel jika Washington mengakui hak-hak bangsa Iran secara substansial. Namun Iran menolak menyerah di bawah tekanan.

Saat ini AS terus memperkuat kehadiran militer di Timur Tengah. Iran menyatakan siap siaga penuh. 

Negosiasi di Islamabad disebut sebagai kesempatan terakhir bagi AS untuk mendengar dan menghormati hak-hak Iran. Jika gagal, kawasan berisiko menghadapi eskalasi konflik yang lebih besar. (*)


0/Post a Comment/Comments