Memasuki Fase Ampunan : Memperbaiki Niat, Memperkokoh Shaff Yang Mulai Renggang

Oleh : Teuku Muhammad Jamil (Akademisi USK, Banda Aceh Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh)


OPINI, KABEREH NEWS | Ramadhan di fase kedua bukan lagi sekadar ujian menahan lapar, melainkan medan perang melawan berhala modern. Di saat pintu ampunan diketuk dengan dahi yang sujud, suara mesin kasir dan notifikasi belanja daring justru terdengar lebih nyaring. Shaff yang merenggang bukan hanya gejala teknis kurangnya orang, melainkan cermin dari spiritualitas yang sedang "dijual" demi konsumerisme dan kepemimpinan yang kehilangan kompas keteladanan.

1. Perbudakan Konsumerisme: Ampunan yang Ditukar Diskon
Ada tragedi yang terjadi di fase maghfirah ini. Masyarakat kita sering terjebak dalam kesalehan kosmetik. Kita lebih cemas tentang bagaimana rupa meja ruang tamu di hari Lebaran daripada bagaimana buruknya rupa hati di hadapan Tuhan.

Logika Terbalik: Kita sanggup berdiri berjam-jam mengantre midnight sale atau berburu takjil mewah, namun mendadak menderita "sakit pinggang" jika imam salat membaca surat yang sedikit lebih panjang.

Keserakahan Berbalut Tradisi: Ramadhan telah direduksi menjadi sekadar festival belanja. Kita merayakan kemenangan puasa dengan tumpukan barang yang sebenarnya adalah antitesis dari esensi pengendalian diri. Ampunan Tuhan seolah-olah dihargai semurah potongan harga di pusat perbelanjaan.

2. Krisis Keteladanan: Shaff yang Renggang dari Atas
Renggangnya shaff jamaah adalah potret nyata dari krisis keteladanan. Sulit mengharapkan umat tetap kokoh di barisan belakang jika para pemimpin—baik formal maupun informal—menampilkan standar ganda yang memuakkan.

Retorika Tanpa Realita: Banyak pemimpin fasih bicara kesederhanaan di podium, namun tetap menggelar buka bersama mewah dengan anggaran negara atau dana umat. Mereka mengajak rakyat prihatin, sementara gaya hidup keluarga mereka tetap "hedon" di balik layar.

Inkonsistensi Moral: Ketika pemimpin hanya menjadikan masjid sebagai panggung pencitraan dan menggunakan atribut agama demi kepentingan elektoral, maka rakyat kehilangan "ruh" untuk mengikuti. Shaff di masjid renggang karena shaff kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya sudah lebih dulu hancur berantakan.

Bermuka Dua: Pemimpin yang asyik bersafari Ramadhan hanya untuk bagi-bagi sembako demi foto, tanpa kebijakan nyata untuk menurunkan harga kebutuhan pokok, adalah pelaku utama yang menjauhkan umat dari ketenangan ibadah.

3. Menggugat Niat: Melawan Arus Kemunafikan
Memasuki fase ampunan berarti melakukan revolusi niat. Jika kita membiarkan shaff terus merenggang demi hiruk-pikuk mal, berarti kita telah menetapkan harga bagi ampunan Tuhan: seharga baju baru atau status sosial semu.

Pilihan Radikal: Kita butuh keberanian untuk berkata "tidak" pada tuntutan sosial yang konsumtif. Kesalehan tidak butuh validasi dari merek pakaian yang kita kenakan di hari raya.

Menagih Janji Pemimpin: Rakyat butuh melihat pemimpin yang shaff-nya paling depan dalam kesederhanaan, bukan hanya paling depan dalam baliho ucapan selamat yang memenuhi sudut kota.

Kesimpulan :
Jangan sampai kita keluar dari Ramadhan dengan lemari penuh pakaian baru, tapi hati yang penuh lubang dosa karena terlalu sibuk mengurus dunia saat Tuhan sedang mengobral ampunan. Jika shaff salat kita renggang hanya karena urusan pasar dan tontonan politik, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya barisan salatnya, tapi kewarasan iman dan integritas nurani kita. (DDN)

Kutaraja, 28 Februari 2026

0/Post a Comment/Comments