Oleh : Saiful Amri (Pegiat medsos dan pemerhati sosial politik)
OPINI, KABEREH NEWS -- Demokrasi Indonesia hari ini sedang mengalami defisit substansi yang akut. Prosedur pemilu rutin dijalankan, kotak suara penuh, namun kualitas politik justru merosot ke titik nadir. Politik tidak lagi menjadi panggung adu gagasan, melainkan arena transaksi kepentingan yang telanjang dan, celakanya, mulai dianggap sebagai kewajaran (normalisasi).
Di tengah pekatnya pragmatisme itu, sebuah tanya besar menyeruak: Masih adakah ruang bagi idealisme, ataukah politik kita sudah benar-benar terjual di pasar gelap kekuasaan?
Intelektualitas di Garis Depan
Relevansi pertanyaan itu menemukan muaranya pada sosok J.M. Saiful, SE., MM. Tokoh muda asal Sumatera yang kini mengomandoi Korwil Aceh–Sumatera Ormas Gerakan Rakyat (GR) ini memilih jalan sunyi yang jarang ditempuh politisi muda lainnya: menempatkan pendidikan politik sebagai fondasi pergerakan.
Langkah Saiful bukan sekadar retorika aktivis. Ia sedang mempertaruhkan kredibilitas akademiknya di Universitas Syiah Kuala. Sebagai kandidat doktor (S3) Pendidikan IPS dengan konsentrasi Pendidikan Politik, Saiful sedang berupaya melakukan eksperimen besar: menjembatani menara gading akademik dengan realitas sosial yang bising dan kompleks.
Di bawah bimbingan akademisi kritis Prof. Dr. TM. Jamil, Saiful ditantang untuk tidak hanya lihai mengutip teori, tetapi cakap mentransformasi teori tersebut menjadi alat bedah atas penyakit politik lokal yang kronis.
Ujian Konsistensi : Teori vs Realitas
Namun, sejarah politik kita punya sisi gelap yang berulang. Kita telah menyaksikan betapa banyak intelektual yang awalnya garang mengkritik, namun berakhir "jinak" dan larut dalam sistem begitu mencicipi manisnya kekuasaan. Idealisme kerap kali luluh di hadapan tekanan pragmatisme.
Bagi Saiful, tantangan terbesarnya bukan lagi menyusun gagasan, melainkan bagaimana menjaga gagasan itu agar tidak luntur saat berbenturan dengan realitas konstituen yang heterogen dan budaya politik transaksional yang mengakar. Apakah masyarakat kita siap menerima politik sebagai proses pembelajaran panjang? Ataukah mereka tetap akan terjebak dalam politik "pukul rata" yang menawarkan hasil instan dalam bentuk materi?
Ini adalah taruhan yang tidak ringan. Jika Saiful hanya menjadi pengumpul massa tanpa proses edukasi, maka ia tak lebih dari sekadar operator politik biasa. Namun, jika ia konsisten pada jalur pendidikan politik, ia sedang menanam benih untuk masa depan demokrasi yang lebih bermartabat.
Menuju Indonesia Emas: Mencari Pemimpin Berintegritas
Menjelang visi Indonesia Emas, diskursus kita terlalu sesak oleh angka-angka ekonomi dan megahnya infrastruktur fisik. Kita sering lupa bahwa tanpa pemimpin yang memiliki integritas dan keberanian moral, pembangunan semegah apa pun akan kehilangan arah dan hanya menjadi bancakan segelintir elite.
Kehadiran figur muda berbasis akademik seperti J.M. Saiful memberikan angin segar. Ia merepresentasikan tesis bahwa politik bisa dijalankan dengan pengetahuan dan etika. Meski demikian, publik tidak boleh sekadar terpesona oleh gelar atau jabatan. Publik memiliki mandat moral untuk mengawasi, menguji, dan menagih bukti konsistensi.
Persimpangan Jalan
Hari ini, J.M. Saiful berdiri di persimpangan krusial. Ia bisa memilih hanyut dalam arus besar politik pragmatis yang menjanjikan kenyamanan, atau tetap tegak melawan arus demi sebuah idealisme yang penuh onak.
Pilihan Saiful akan menentukan satu hal : Apakah ia akan tercatat sebagai bagian dari generasi perubah yang membelokkan arah politik Indonesia menuju arah yang lebih bersih, ataukah ia hanya akan menjadi satu lagi "cerita lama" tentang intelektual yang gagal bertahan di tengah badai kekuasaan?
Waktu akan menjadi hakim yang paling adil bagi taruhan politik J.M. Saiful. (*)
Posting Komentar