KABEREH NEWS, ACEH TIMUR - Juru bicara (Jubir) Muda Seudang Aceh Timur, Radja Muhammad Husen, menerima wawancara akademik berupa penelitian skripsi dari salah satu mahasiswa Langsa asal Aceh Timur, Tahjunnur, yang membahas strategi komunikasi politik dalam kampanye, khususnya peran Muda Seudang sebagai sayap Partai Aceh.
Wawancara tersebut berlangsung dalam suasana dialogis dan terbuka, membedah berbagai aspek penting komunikasi politik yang efektif, tantangan di lapangan, hingga perbedaan pendekatan yang dilakukan Muda Seudang Aceh Timur dibandingkan dengan sayap atau partai politik lain.
Menjawab pertanyaan pertama, Radja Muhammad Husen menegaskan bahwa strategi komunikasi politik yang efektif harus berangkat dari pemahaman terhadap karakter dan kebutuhan masyarakat.
“Strategi komunikasi politik yang efektif adalah komunikasi yang jujur, membumi, dan menyentuh langsung persoalan rakyat. Bukan sekadar menyampaikan janji, tetapi mampu menghadirkan solusi yang realistis dan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Radja saat menerima kunjungan wawancara di basecamp-nya. Rabu malam, 21 Januari 2026.
Kedua terkait cara tim kampanye meyakinkan pemilih, Radja menyampaikan bahwa kepercayaan publik tidak dibangun secara instan.
“Keyakinan pemilih lahir dari rekam jejak, keteladanan, dan konsistensi sikap calon yang diusung. Tim kampanye harus mampu menjelaskan visi, misi, serta keberpihakan calon kepada rakyat secara sederhana dan mudah dipahami,” katanya.
Berdasarkan pengalamannya di lapangan, menjawab pertanyaan ketiga, Radja menilai ada sejumlah faktor yang mempengaruhi keberhasilan strategi komunikasi politik.
“Faktor utama adalah kedekatan emosional dengan masyarakat, kekompakan tim, serta kemampuan membaca situasi sosial dan budaya setempat. Komunikasi politik tidak bisa disamaratakan, setiap daerah memiliki pendekatan yang berbeda,” jelasnya.
Keempat perihal tantangan yang dihadapi, Radja mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi selama menerapkan strategi komunikasi politik yang baik.
“Tantangan terbesar adalah melawan apatisme politik dan hoaks. Di sinilah peran komunikasi yang santun, edukatif, dan beretika sangat penting agar masyarakat tidak terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan,” tegasnya.
Terakhir soal Perbedaan Komunikasi, Sebagai sayap Partai Aceh, Radja lanjut mengungkapkan bahwa Muda Seudang memiliki ciri khas tersendiri dalam membangun komunikasi politik.
“Yang membedakan kami adalah pendekatan kultural dan historis. Muda Seudang hadir bukan hanya sebagai alat politik, tetapi sebagai penghubung nilai-nilai perjuangan Aceh dengan generasi muda dan masyarakat akar rumput,” ungkap Radja Muhammad Husen.
Keberhasilan strategi komunikasi politik Muda Seudang Aceh Timur tidak hanya bersifat konseptual, tetapi terbukti nyata melalui capaian elektoral. Langkah-langkah komunikasi yang terukur, konsisten, dan berbasis kedekatan dengan masyarakat berhasil mengantarkan sejumlah calon legislatif Partai Aceh meraih kursi Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Timur, khususnya di Daerah Pemilihan (Dapil) I Aceh Timur, serta di dapil-dapil lainnya.
Tidak hanya di tingkat kabupaten, strategi yang sama juga efektif mengantarkan calon Partai Aceh ke Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Dapil Aceh Timur, sekaligus memperkuat posisi Partai Aceh sebagai kekuatan politik dominan di wilayah tersebut.
“Ini membuktikan bahwa komunikasi politik yang dibangun secara konsisten, jujur, dan berbasis nilai-nilai lokal mampu mengantarkan kemenangan politik yang berkelanjutan. Kami tidak hanya berbicara soal kampanye, tetapi membangun kepercayaan jangka panjang,” ujar Radja.
Lebih lanjut, Radja menegaskan bahwa keberhasilan tersebut bermuara pada satu pencapaian strategis, yakni keluarnya Partai Aceh sebagai penguasa parlemen di Aceh Timur, yang menjadi fondasi kuat dalam mengawal kebijakan dan kepentingan rakyat melalui lembaga legislatif.
Keberhasilan komunikasi politik Muda Seudang juga tercermin pada momentum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Aceh Timur. Dengan pendekatan yang sama—mengutamakan kerja-kerja lapangan, komunikasi kultural, serta soliditas tim—Muda Seudang turut berperan dalam kemenangan Iskandar Usman Al-Farlaky sebagai Bupati Aceh Timur.
“Pilkada adalah ujian paling nyata. Alhamdulillah, strategi komunikasi yang kami bangun bersama seluruh elemen partai berhasil mengantarkan Iskandar Usman Al-Farlaky sebagai Bupati Aceh Timur. Ini adalah kemenangan rakyat dan kemenangan perjuangan,” pungkas Radja.
Sementara itu, Tahjunnur, mahasiswa Langsa yang melakukan wawancara, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas keterbukaan serta penjelasan yang disampaikan Jubir Muda Muda Seudang Aceh Timur tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Jubir Muda Seudang Aceh atas waktu dan penjelasan yang sangat komprehensif. Wawancara ini memberi saya pemahaman mendalam tentang praktik komunikasi politik di lapangan, khususnya peran Muda Seudang sebagai sayap Partai Aceh,” ujar Tahjunnur.
Ia menilai wawancara tersebut sangat bermanfaat sebagai bahan akademik sekaligus wawasan praktis mengenai dinamika politik di Aceh Timur. (Redaksi)

Posting Komentar