KISAH | KABEREH NEWS - Di musim yang seharusnya membawa harapan, ketika tradisi meugang menjadi penanda kebersamaan dan keberkahan, kabar datang dari Maha Raja di Maha Negara. Atas permintaan Raja di pusat negeri, sebanyak 45 ekor sapi dikirimkan ke Negeri Arwana untuk dibagikan kepada para korban bencana.
Empat puluh lima.
Angka yang terdengar kecil untuk sebuah negeri yang luka-lukanya masih basah, lumpurnya belum kering, dan pengungsinya masih berdesakan di tenda-tenda darurat. Negeri Arwana tercatat sebagai salah satu wilayah dengan dampak bencana paling parah. Namun hanya 45 ekor sapi yang tercatat tiba.
Bisik-bisik pun mulai menjalar, dari sudut warung kopi hingga ke beranda rumah yang dindingnya masih retak oleh banjir dan longsor.
“Kenapa cuma 45 ekor? Gampong terdampak itu banyak sekali,” gumam seorang lelaki tua sambil mengaduk kopi yang tak lagi terasa pahit dibanding nasib.
“Ah, kau ini pura-pura tak tahu saja. Kalau bukan proyek besar, tak menarik di mata Arwana. Salah kita sendiri kenapa ambil boh reutoh,” sahut Mak Ali, pelan namun tajam.
Bisik itu menjelma gelombang. Dunia maya Negeri Arwana mendadak riuh. Debat panjang tak terbendung. Pernyataan demi pernyataan melesat seperti anak panah, menghunjam tepat ke jantung kekuasaan. Tudingan lama kembali diangkat: Arwana lebih peka pada proyek daripada penderitaan.
Malam itu, sebuah tangkapan layar beredar luas. Data pembagian sapi bantuan Maha Raja yang diposting oleh salah satu wedana membuat bara kembali menyala. Banyak gampong yang terdampak langsung bencana justru tak tercantum sebagai penerima.
“Gampong kami juga korban. Kenapa tidak dapat sapi dari Maha Raja?” protes seorang perangkat gampong dengan nada yang tak lagi mampu menahan kecewa.
Protes demi protes membanjiri jagat maya. Negeri yang listriknya pernah padam total kini menyala oleh amarah warganya.
Keesokan harinya, Arwana tampil dengan langkah gagah. Di tangannya tergenggam sebuah kantong berisi uang dari Maha Raja. Ia menyambangi pusat pelelangan sapi di negerinya sendiri. Satu per satu sapi dipilih dan dibeli, dengan gaya yang lebih menyerupai pertunjukan ldaripada pengabdian.
Publik kembali bertanya.
Apakah tak ada orang lain yang bisa dipercaya?
Apakah pekerjaan sekecil membeli sapi harus dilakukan sendiri oleh seorang raja?
Sementara pekerjaan rumah pascabencana masih menumpuk, rumtara belum jelas, rumtap bermasalah, lumpur belum sepenuhnya dibersihkan, Arwana justru sibuk di tengah bau jerami dan tawar-menawar.
Namun itulah Arwana. Seorang raja yang sulit percaya, kecuali pada dirinya sendiri. Terlebih jika ada peluang “cuan” di dalamnya. Padahal dalam mengurus negeri, ia memiliki para kepala badan dan para wedana. Tetapi mereka lebih sering menjadi penonton ketika keputusan diambil, dan menjadi tameng ketika masalah muncul.
Keanehan lain segera tercium. Satu ekor sapi dihargai oleh Maha Raja sebesar 50 juta. Namun sapi-sapi yang dibeli Arwana adalah sapi berukuran kecil yang ditaksir publik hanya bernilai sekitar 28 juta.
Selisih angka itu menjadi bahan bakar baru.
“Apakah sapi bantuan pun disunat?” tanya warga di media sosial, kali ini tanpa tedeng aling-aling.
Rapat di Kewedanaan Ujung Timur menjadi saksi. Para peutuha chiek datang dengan suara meninggi, amarah yang tak lagi bisa dibendung. Mereka menuntut kejelasan kepada wedana. Namun wedana yang tak dilibatkan sejak awal hanya mampu mengurut dada. Mereka menjadi pagar yang dipasang untuk menahan badai yang bukan mereka ciptakan.
Semua ini terjadi karena tak ada mufakat. Tak ada musyawarah. Pendataan dan pengadaan dilakukan tanpa melibatkan struktur resmi negeri. Arwana lebih memilih mendengar bisikan para buzzer daripada suara pembantunya sendiri.
Ia berjalan di lorong kekuasaan yang semakin sunyi, ditemani gema pujian bayaran dan tepuk tangan yang direkayasa.
Dan rakyat mulai mengingat kembali satu hal yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan kolektif mereka: Arwana menjadi raja bukan semata karena kepercayaan, tetapi karena suara-suara yang pernah dibeli.
Kini, setelah takhta digenggam, tujuan itu tampak semakin terang, mengembalikan modal yang dulu telah ditebar.
Sementara rakyatnya, masih menghitung bukan hanya jumlah sapi yang datang, tetapi juga selisih harga yang hilang di antara angka-angka itu.
NOTE : Karya ini adalah fiksi. Seluruh tokoh, peristiwa, tempat, dialog, dan ilustrasi diciptakan untuk kepentingan sastra dan kritik sosial. Setiap kemiripan dengan individu nyata, peristiwa aktual, maupun visual tertentu adalah kebetulan semata dan tidak dimaksudkan sebagai representasi atau tuduhan terhadap pihak mana pun.
TTD penulis: Zoel Sopan Zulkarnaini
Posting Komentar