Meugang Pasca-Bencana, Pemerintah Diminta Jamin Stok Daging Sapi



Banda AcehKaberehnews.com - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, meminta pemerintah pusat untuk menjamin ketersediaan dan stabilitas stok daging sapi untuk meugang, tradisi Aceh menjelang Ramadan. Hal ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana DPR RI di Banda Aceh, Selasa (30/12/2025).

Muzakir Manaf menyatakan bahwa banyak warga Aceh kehilangan ternak akibat banjir dan longsor, sehingga perlu bantuan pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan daging sapi untuk meugang. "Kita perlu memastikan ketersediaan daging sapi untuk meugang, agar tradisi ini dapat terus dilanjutkan," katanya.

Rapat koordinasi ini bertujuan untuk membahas upaya pemulihan pasca-bencana di Aceh, termasuk kebutuhan dasar masyarakat seperti pangan, sandang, dan papan. Pemerintah Aceh berharap dapat bekerja sama dengan pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Aceh.

Meugang adalah tradisi unik masyarakat Aceh yang dilakukan menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Tradisi ini memiliki makna sosial, budaya, dan keagamaan yang kuat, serta menjadi simbol kebersamaan dan solidaritas masyarakat Aceh.



Sejarah Meugang

Meugang diyakini sudah ada sejak zaman Kesultanan Aceh pada abad ke-16, ketika Sultan Iskandar Muda memerintahkan untuk membagikan daging kepada rakyat sebagai bentuk perhatian dan syukur atas datangnya bulan Ramadan. Tradisi ini kemudian berkembang dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Aceh.

Pelaksanaan Meugang

Meugang biasanya dilakukan sehari atau dua hari sebelum masuknya bulan Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Masyarakat Aceh akan berbondong-bondong ke pasar untuk membeli daging sapi atau kambing, yang kemudian dimasak dan disantap bersama keluarga. Daging yang disembelih juga disisihkan untuk didistribusikan kepada kaum dhuafa dan fakir miskin.

Makna dan Filosofi Meugang

Meugang memiliki makna sosial yang mendalam, yaitu kebersamaan dan solidaritas masyarakat Aceh. Tradisi ini juga menjadi wujud rasa syukur dan penghormatan kepada bulan Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Selain itu, Meugang juga menjadi sarana mempererat hubungan keluarga dan tetangga.

Tantangan Meugang di Era Modern

Meskipun tradisi Meugang tetap bertahan, ada beberapa tantangan yang dihadapi, antara lain kenaikan harga daging dan perubahan gaya hidup masyarakat. Namun, upaya pelestarian Meugang terus dilakukan, seperti pengadaan pasar murah dan edukasi budaya kepada generasi muda. (*)

0/Post a Comment/Comments