KABEREH NEWS, OPINI | Di tengah arus konsumerisme dan gaya hidup glamor, konsep minimalisme hadir serupa oase yang menenangkan. Namun jauh sebelum istilah ini populer, Rasulullah SAW telah mengajarkan esensi hidup minimalis melalui teladan hidupnya yang sederhana, penuh makna, dan bebas dari ketergantungan pada dunia.
Dalam Islam, hidup minimalis bukan berarti hidup miskin atau menolak kenikmatan dunia, melainkan mengelola keinginan dan mengutamakan kebutuhan. Allah SWT berfirman:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Rasulullah SAW hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa. Rumah beliau hanya berukuran sekitar 8 x 4 meter, perabotannya pun sangat terbatas—hanya yang benar-benar dibutuhkan. Bahkan, beliau tidur di atas tikar kasar, dan ketika Umar bin Khattab menyarankan agar beliau menggunakan alas yang lebih nyaman, Rasulullah menjawab:
“Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)
Berikut ini beberapa prinsip minimalismi ala Rasulullah Saw yang dapat dicontoh oleh umat Muslim.
1. Tidak membandingkan diri dengan orang lain
Mengapa? Sebab membandingkan hanya akan menumbuhkan rasa kurang dan mengikis syukur. Rasulullah mengajarkan untuk fokus pada nikmat yang telah dimiliki.
2. Menjadi musafir di dunia
Rasulullah bersabda: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” (HR. Bukhari)
Biasanya, seorang membawa barang secukupnya, fokus pada tujuan, dan tidak melekat pada kenyamanan sesaat.
3. Mengelola harta dengan bijak
Rasulullah Saw mengingatkan bahwa harta yang benar-benar milik kita hanyalah yang dimakan, dipakai, atau disedekahkan. Sisanya akan ditinggalkan begitu kita meninggal.
4. Menghindari pemborosan dan pamer
Islam sudah jelas melarang israf (berlebihan) dan tabdzir (menghambur-hamburkan harta), karena keduanya adalah jalan menuju kehancuran iman.
Lebih dari sekadar tren, dalam islam, gaya hidup minimalis atau secukupnya merupakan jalan menuju ketenangan batin. Dengan mengurangi beban terhadap harta, kita membuka ruang untuk hal-hal yang lebih bermakna, seperti ibadah, keluarga, ilmu, dan amal shaleh.(*)
Posting Komentar