Mungkinkah Kita, Sebagai Pemilik "PIALA JANNATUR RAYYAN?"

Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor, pada Sekolah Pascasarjana, USK, Banda Aceh.


SEBAGAI pencinta sepak bola, pasti ingat dan ikut bergembira ketika Tim Unggulannya meraih kemenangan. Seperti apa yang dirasakan oleh Juara EURO beberapa tahun yang silam — Tim Spanyol, ketika ia dipastikan menjadi juara dalam event besar itu. Tentu luapan kegembiraan dan suka cita menyatu dalam diri mereka. Tidak hanya pemain, pelatih, dan tim saja, bahkan semua warga negara Spanyol menyatu dalam kegembiraan itu, termasuk penonton dimanapun mereka bermukim...

Dunia pun memujinya, publik menyanjungnya. Spanyol jadi buah bibir. Keberhasilan itu hasil jerih perjuangan panjang dan melelahkan. Penantian selama empat puluh tiga tahun untuk merebut kembali predikat sang juara. Penuh kesungguhan dan kedisiplinan.

SEKARANG Coba bayangkan, Bagaimana jika Piala itu datangnya dari Tuhan-NYA manusia, Pemilik Alam ini?. Bagaimana jika predikat juara itu disematkan oleh Pemilik alam raya ini untuk kita?. Bagaimana jika yang menyanjung itu adalah Penentu kehidupan semua makhluk di Alam ini? Secara fitriyah dan imaniyah, pasti orang akan berebut piala dan predikat juara dari Tuhannya, Allah ‘Azza Wajalla. Allahu Akbar.

Tentu, jauh lebih mulia, dan istimewa dibandingkan dengan sanjungan dari manusia sebagai makhlukNya. Ya, itulah peraih sukses dan Piala Ramadhan. Orang yang mampu melewati event besar ini sampai finish dengan kesungguhan. Ia meraih predikat taqwa, sebagai identitas tertinggi manusia. Ia meraih "Piala Ar-Rayyan," surga spesial bagi shaayimin dan shaayimat.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar dan mudah-mudahan kamu menjadi insan yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah : 183). “Sesungguhnya di dalam surga itu ada pintu bernama Rayyan, tidak ada yang memasukinya kecuali mereka yang shaum Ramadhan.” (Muttafaq alaih).

Bahkan tidak hanya itu, orang yang sukses Ramadhan, mengisinya dengan kesungguhan, akan meraih berbagai keistimewaan dan kemuliaan. Karena Ramadhan menjanjikan : Kelipatan pahala, pengkabulan do’a-do’a, mempermudahan dalam meraih amal shaleh, dan penghapusan semua dosa di masa lalu. Astargfirullahal 'Adhiem.

Surga dibuka lebar-lebar, Neraka ditutup rapat-rapat, setan-setan dibelenggu. Dan di dalamnya ada malam lailatul qadar, malam lebih baik dari seribu bulan atau 82 tahun empat bulan. Kebaikan senilai usia atau umur rata-rata manusia, bagi yang yang dapat meraihnya. Subhanallah! Maha Suci Allah.

Nabi Saw. bersabda : “Bila Ramadhan telah tiba, pintu-pintu Surga dibuka, dan pintu-pintu Neraka ditutup, sementara setan-setan diikat.” (HR. Bukhari-Muslim). Dalam Hadist yang lain disebutkan bahwa, “Setiap amal anak Adam AS – selama Ramadhan – dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, Allah Swt. berfirman: Puasa itu untuk-KU, dan Aku langsung yang akan membalas dan memberikan pahala untuknya.” (HR. Muslim).

“Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan kesadaran iman dan penuh harapan ridha Allah, akan diampuni semua dosa-dosa yang lalu.” (HR. Bukhari-Muslim). Dan “Orang yang berpuasa do’anya tidak akan ditolak, terutama menjelang waktunya berbuka.” (HR. Ibn Majah, Sanad hadits ini sahih). Yang lebih penting untuk diperhatikan di sini adalah, persiapan, sikap dan pengkondisian sebelum Ramadhan datang.

Seperti Tim Sepakbola Spanyol, yang harus berjibaku sepanjang waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi musim pertandingan. Begitu juga dengan Persiapan Ramadhan. Apa yang perlu dipersiapkan? Persiapan fikriyah atau pemahaman tentang Ramadhan. Persiapan ruhiyah atau ibadah ritual. Persiapan maddiyah atau fisik dan material.

Bulan Sya’ban telah menjelang, Bulan di mana Rasulullah saw meningkatkan aktivitas ibadah. Bahkan diriwayatkan beliau hampir-hampir shaum sunnah sebulan penuh. Imam al-Nasa’i dan Abu Dawud meriwayatkan, disahihkan oleh Ibnu Huzaimah. Usamah berkata pada Nabi Saw.

“Wahai Rasulullah, saya tidak melihat Engkau melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Engkau lakukan dalam bulan Sya’ban.’ Rasul menjawab : ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.

Di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa.”

Dari Aisyah RA. beliau berkata : “Rasulullah SAW. berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Sya’ban.” Imam Bukhari.

Subhanallah, kondisi ruhiyah, fikriyah dan maddiyah sudah dipersiapkan sebulan, bahkan dua bulan sebelum Ramadhan menjelang. Sehingga ketika Ramadhan datang, kita sudah terbiasa, terkondisikan dengan kesungguhan dan ketaatan.

Dan karena itu kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan Ramadhan akan dapat diraih. Keluar Ramadhan meraih predikat muttaqin dengan Meraih Juara dan Mendapatkan "Piala Jannatur Rayyan." Insya Allah. Aamiin Yaa Rabbal Alamin ... (Salam Akhir Ramadhan)
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.