Oleh : Teuku Muhammad Jamil
(Alumnus/Kader HMI)
OPINI -- Lima Februari bukan sekadar artefak sejarah yang diperingati dengan seremoni hampa. Ia adalah sebuah Episteme Perlawanan. Ketika Lafran Pane memahat fondasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Yogyakarta 5 Pebruari 1947, ia tidak sedang mendirikan sebuah organisasi pencari kerja, melainkan sebuah "Laboratorium Insan Cita". Sebuah kawah candradimuka di mana keislaman dan keindonesiaan melebur dalam satu tarikan nafas perjuangan.
Intelektualitas: Jihad Literasi di Rimba Disrupsi.
Kader HMI yang "berkadar hebat" adalah mereka yang menjadikan buku sebagai khitah dan dialektika sebagai sajadah. Di era disrupsi ini, tantangan kita bukan lagi angkat senjata, melainkan angkat nalar. Intelektualitas kader jangan sampai tereduksi menjadi sekadar retorika di media sosial atau penguasaan panggung-panggung digital yang narsistik.
Intelektualitas sejati adalah ketajaman nalar dalam membedah struktur ketidakadilan. Tanpa kedalaman akademis, kader hanya akan menjadi "peneriak" tanpa isi, atau lebih buruk lagi, menjadi "pemuja" narasi penguasa yang menyesatkan.
Politik: Sajadah Panjang atau Panggung Penjarah?.
Politik bagi HMI adalah High Politics—politik nilai yang berbasis pada etika profetik. Kita memandang politik sebagai jalur pengabdian yang luhur. Namun, sejarah hari ini mencatat sebuah ironi yang getir: jebakan oportunisme.
Seringkali, kita menyaksikan kader yang begitu fasih bicara tentang umat di podium, namun gagap saat harus membela hak rakyat di ruang sidang. Banyak yang lincah memanjat tangga kekuasaan, namun lupa membawa beban penderitaan rakyat di pundaknya. Politik yang seharusnya menjadi "jalur perjuangan" telah bergeser menjadi "jalur penghidupan". Inilah musuh nyata kita: Oportunisme Intelektual, di mana kecerdasan digunakan hanya untuk mencari celah keuntungan pribadi dan fungsionalisme organisasi dikorbankan demi syahwat posisi.
Menuju Khitah Insan Cita.
Menjadi kader hebat berarti berani berdiri tegak melawan arus pragmatisme yang korosif. Kita harus kembali pada kesadaran bahwa nilai-nilai Islami bukan sekadar tempelan moral, melainkan penggerak utama dalam setiap kebijakan publik yang kita ambil nanti di ranah kekuasaan.
Jika politik tanpa orientasi ketuhanan hanya akan melahirkan penindas, maka intelektualitas tanpa integritas hanya akan melahirkan penipu. Di usia ke-79 ini, HMI harus melakukan muhasabah massal. Kita harus berhenti menjadi sekadar "pemakai" sejarah dan kembali menjadi "pembuat" sejarah.
Jangan biarkan warna hijau-hitam memudar karena ambisi pribadi yang hitam, atau karena idealisme yang tak lagi menghijau. Selamat Milad Himpunan Mahasiswa Islam. Mari kita pulangkan kembali "Ruh" itu ke dalam tubuh organisasi ini.
Yakin Usaha Sampai !
Kutaraja, 4 Pebruari 2026
Salam Perjuangan Dari Aceh Untuk Indonesia ...
Posting Komentar