TEHERAN - Para pejabat senior Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan berunding di Muscat, Oman, pada Jumat (6/2/2025). Proses ini akan menjadi penentu apakah kedua negara mencapai kesepakatan atau justru menemui jalan buntu dan memilih opsi perang. Teheran ingin perundingan dibatasi hanya pada masalah program nuklir Iran. Namun, Washington menuntut perundingan diperluas, termasuk larangan negara Islam itu mengembangkan rudal balisik seperti yang diinginkan Israel.
Dalam beberapa minggu terakhir, Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengebom Iran jika tidak mencapai kesepakatan. AS telah mengirim ribuan pasukan dan apa yang digambarkan Trump sebagai "armada besar" ke Timur Tengah, termasuk kapal induk bersama dengan kapal perang lainnya serta jet tempur.
Iran telah bersumpah untuk menanggapi serangan dengan kekuatan, mengancam akan menyerang aset-aset militer Amerika di Timur Tengah dan juga Israel. Delegasi Iran akan dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang pekan lalu mengatakan bahwa angkatan bersenjata negaranya "siap menembak", sementara AS akan diwakili oleh utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner.
Ini akan menjadi pertemuan pertama yang melibatkan pejabat AS dan Iran sejak perang antara Israel dan Iran Juni lalu, ketika AS ikut campur dengan mengebom tiga fasilitas nuklir utama Iran. Iran mengatakan aktivitas pengayaan uraniumnya berhenti setelah serangan tersebut. Bagi para pemimpin Iran yang sedang menghadapi tekanan, pembicaraan ini bisa menjadi kesempatan terakhir untuk mencegah aksi militer AS yang dapat semakin menggoyahkan rezim, yang menurut para analis berada dalam posisi terlemahnya sejak berkuasa setelah Revolusi Islam 1979.
Ancaman Trump muncul ketika pasukan keamanan Iran menindak keras demonstrasi besar-besaran, yang dipicu oleh krisis ekonomi yang semakin dalam, dan para pengunjuk rasa menyerukan diakhirinya Republik Islam.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA), sebuah kelompok yang berbasis di Washington, mengatakan telah mengonfirmasi setidaknya 6.883 kematian, memperingatkan bahwa jumlahnya bisa jauh lebih tinggi, dan bahwa lebih dari 50.000 orang telah ditangkap.
Krisis saat ini telah kembali memunculkan diskusi mengenai program nuklir Iran, yang telah menjadi pusat perselisihan berkepanjangan dengan Barat. Selama beberapa dekade, Iran mengatakan programnya bertujuan damai, sementara AS dan Israel menuduhnya sebagai bagian dari upaya untuk mengembangkan senjata nuklir.
Iran mengatakan pihaknya berhak untuk memperkaya uranium di wilayahnya sendiri dan telah menolak seruan untuk memindahkan persediaan uranium yang sangat diperkaya—400 kg—ke negara ketiga. Militer Iran Siap Opsi Perang Sehari menjelang perundingan, juru bicara militer Iran Brigadir Jenderal
Iran Mohammad Akraminia mengatakan militer Teheran siap untuk berperang jika itu maunya AS.
Mengomentari penambahan 1.000 drone ke militer Iran, Akraminia mengatakan: "Kami selalu mengumumkan bahwa kami siap menghadapi pilihan dan skenario apa pun yang dipertimbangkan musuh, dan jika musuh memilih opsi perang, kami siap untuk opsi apa pun dalam kondisi perang."
"Trump harus memilih antara kompromi atau perang,” ujarnya.
"Jika perang pecah, cakupannya akan meliputi seluruh wilayah geografis kawasan dan semua pangkalan AS—dari wilayah pendudukan hingga Teluk Persia dan Laut Oman, tempat AS memiliki pangkalan. Akses kita ke pangkalan AS mudah, dan ini telah meningkatkan kerentanan mereka," paparnya, sebagaimana dikutip dari ISNA. Sementara itu, dalam langkah yang dapat semakin memperketat ketegangan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyita dua kapal tanker minyak beserta awak asingnya di perairan Teluk karena menyelundupkan bahan bakar.
Di tengah gertakan perang, Kepala Angkatan Udara Israel Mayor Jenderal Tomer Bar mengatakan pada hari Kamis bahwa militer Zionis terus memperkuat kesiapan dan kemampuan baik dalam pertahanan maupun serangan. “Angkatan Udara, dan Anda khususnya, diharuskan untuk terus mempertahankan tingkat kesiapan yang tinggi,” kata Bar saat mengunjungi baterai pertahanan udara Iron Dome cadangan di Israel utara, menurut pernyataan yang diterbitkan oleh militer Israel.
“Setiap hari, kami terus memperkuat kesiapan dan kemampuan baik dalam pertahanan maupun serangan," ujarnya. (*)
Sumber: Sindonews.com
Posting Komentar