KABEREH NEWS | OPINI, RELIGI -- Di tengah lingkungan yang terbiasa berpura-pura, kejujuran sering terasa seperti ancaman. Orang yang jujur menjadi cermin yang memantulkan keburukan, dan cermin tidak pernah disukai oleh mereka yang takut melihat wajah aslinya. Maka wajar jika suara lurus justru dianggap mengganggu, bahkan berbahaya.
Kemunafikan hidup dari kesepakatan diam-diam untuk saling menutup mata. Selama semua berpura-pura baik, sistem yang rusak tetap aman. Ketika satu orang memilih berkata apa adanya, ia merusak kenyamanan palsu itu. Bukan karena ia salah, tetapi karena kejujuran membongkar kebohongan yang telah lama dirawat bersama.
Di situlah ironi terjadi. Yang jujur diperlakukan seperti pelanggar, sementara kepura-puraan dipuji sebagai kebijaksanaan. Namun sejarah selalu berpihak pada mereka yang berani jujur, meski harus disingkirkan lebih dulu. Sebab kebenaran mungkin terluka, tetapi tidak pernah benar-benar kalah.
Kejujuran bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang mampu mengubah dunia. Maka, mari kita terus berani jujur, meski harus menghadapi tantangan dan kritik. Karena pada akhirnya, kebenaran akan selalu menang. (*)
Posting Komentar