Trauma Anak Korban Banjir Aceh

KABEREH NEWS | Di tengah gelap yang menelan Aceh Tamiang pasca banjir, seorang anak perempuan kecil berjalan sendirian. Malam itu sunyi, listrik belum menyala, dan jalanan masih basah oleh lumpur serta sisa-sisa kepanikan. Dengan langkah kecil dan tubuh yang kelelahan, ia menempuh jarak entahlah sudah berapa kilometer, tanpa sandal, kaki berlumpur, dan hanya membawa plastik jajanan kosong di tangannya.

Plastik itu bukan sekadar sampah. Ia menjadi satu-satunya benda yang ia genggam, seolah pegangan tipis untuk tetap bertahan. Dalam kepolosannya, ia mengira kedua orang tuanya telah selamat. Ia berjalan bukan untuk berpetualang, melainkan untuk mencari bantuan atau mungkin sekadar mencari pulang, meski ia sendiri tak tahu lagi ke mana arah “pulang” itu berada.

Di tengah perjalanan, ia bertemu Tim Gajah Puteh bersama relawan Wajah Langsa yang sedang melakukan patroli kemanusiaan.

“Adek mau ke mana?” tanya salah satu relawan dengan suara pelan.

“Pulang,” jawabnya lirih.

“Pulang ke mana? Rumahnya di mana?”

“Ke rumah,” ucapnya singkat, nyaris tanpa emosi.

“Orang tuanya di mana?”

“Mandi,” katanya tetap datar

"Mandi." bagi kita kata itu sangat sederhana, mungkin ada manusia dewasa yang memberi tahu kalau orang tuanya sedang mandi dalam konteks menyembunyikan kalau orang tuanya tersapu banjir. Atau anak ini tidak hanya kehilangan orang tuanya secara fisik; ia juga kehilangan kemampuan untuk memproses kenyataan. Mekanisme pertahanan dirinya menciptakan realitas yang bisa ia terima: Orang tuanya tidak pergi selamanya; mereka hanya "mandi," sebuah rutinitas sederhana yang berarti mereka akan kembali

Tatapannya kosong. Ia tidak menoleh. Ia terus berjalan, seolah tubuh kecilnya bergerak otomatis, sementara jiwanya tertinggal entah di mana. Di wajahnya, trauma itu terlihat jelas trauma kehilangan, kebingungan, dan ketakutan yang belum bisa ia pahami dengan kata-kata.

Melihat kondisinya yang kelelahan dan linglung, para relawan segera menghentikan langkahnya. Ia diamankan, dipeluk, ditenangkan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak sendirian. Anak perempuan kecil itu kemudian dibawa ke posko terdekat untuk mendapatkan perlindungan, pendampingan, serta upaya penelusuran keberadaan keluarganya.

“Alhamdulillah, anak tersebut berhasil kami amankan dalam keadaan selamat. Saat ini sudah berada di posko untuk penanganan lebih lanjut,” ujar salah satu relawan di lapangan.

Kini, anak perempuan itu memang telah berada di posko tubuhnya selamat, tetapi jiwanya masih tertinggal di malam gelap yang memaksanya berjalan sendirian. Trauma tidak selalu berupa luka yang terlihat. Ia bersembunyi di tatapan kosong, di jawaban yang terputus, di kata “pulang” yang tak lagi punya alamat. 

Dan di balik trauma itu, ada rantai panjang kebijakan yang kerap abai: hutan yang hilang, sungai yang tak lagi diberi ruang, perencanaan yang lebih sibuk melayani kepentingan daripada melindungi kehidupan. 

Anak-anak seperti dia tidak pernah ikut rapat, tidak menandatangani izin, tidak menentukan arah pembangunan namun justru mereka yang paling awal menanggung akibatnya.

---

Andrian
16 Desember 2025
25 Jumadil Akhir 1447 H

#PrayForSumatera #BanjirSumatera

0/Post a Comment/Comments