Jurnalis Aceh Timur Terlilit Banjir: "Alat Kerja Habis, Bagaimana Kami Meliput?"

ACEH TIMUR, KABEREH NEWS -- Bencana banjir hidrometeorologi yang melanda Aceh Timur sejak akhir November 2025 tidak hanya merusak infrastruktur dan rumah warga, tetapi juga melilit sejumlah jurnalis lokal. Mereka kehilangan tempat tinggal, kendaraan, dan peralatan kerja jurnalistik, namun tetap berusaha menjalankan tugas meliput bencana.

M. Zubir, jurnalis Cakrawala Nusantara, menceritakan bagaimana rumahnya di Desa Seunebok Saboh, Pante Bidari, terendam banjir hingga seluruh harta benda hanyut. "Baju habis semua, yang tersisa hanya yang melekat di badan. Alat kerja jurnalis juga tidak ada lagi," ujarnya.

Zubir dan rekan-rekannya, seperti Ridwan, tetap berusaha meliput bencana meskipun kondisi darurat. "Kami tetap berusaha meliput, tetapi jaringan internet tidak ada, listrik padam, sehingga hanya bisa mengambil dokumentasi foto dan video di saat kejadian," katanya.

Ridwan sendiri kehilangan rumah, dua unit sepeda motor, dan seluruh perabot rumah tangga. "Alhamdulillah anak dan istri selamat, tapi kami lari menyelamatkan diri tanpa membawa apa-apa," tuturnya.

Para jurnalis korban banjir memohon perhatian serius dari Presiden Republik Indonesia, Dewan Pers, Pemerintah Aceh, dan organisasi-organisasi pers. "Kami tidak tahu harus berbuat apa lagi. Alat kerja tidak ada, kendaraan tidak ada, sementara kami tetap menjalankan tugas jurnalistik," ungkap Ridwan.

Hendrika Saputra, Ketua Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Aceh Timur, juga meminta perhatian dan kepedulian dari semua pihak. "Kami mohon bantuan alat kerja bagi rekan-rekan jurnalis yang menjadi korban bencana," ujarnya.

Dengan kondisi yang sulit, para jurnalis Aceh Timur tetap berusaha menjalankan tugas jurnalistik, membantu masyarakat, dan saling membantu sesama rekan wartawan yang terdampak.(*)

0/Post a Comment/Comments