Benarkah Anies Baswedan Segera Jadi Tersangka Korupsi Formula E

Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat memberikan keterangan pers sebelum ajang balapan Formula E jakarta 2023 di Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (3/6/2023). ANTARA/Syaiful Hakim -

KABEREH NEWS  | JAKARTA – Guru Besar Hukum Tata Negara Denny Indrayana kembali munculkan isu bahwa bakal calon presiden (Bacapres) Anies Baswedan segera jadi tersangka korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK.
Denny Indrayana mengatakan, kabar Anies Baswedan segera jadi tersangka bukan saja dia yang tahu, tetapi sudah menjadi informasi yang beredar di banyak kesempatan.

“Bukan hanya saya, banyak yang sudah menyatakannya. Feri Amsari, Zainal Arifin Mochtar, misalnya, dalam beberapa podcast sudah menyatakan, pentersangkaan adalah salah satu skenario pamungkas Istana untuk menjegal Anies Baswedan menjadi kontestan dalam Pilpres 2024” kata Denny Indrayana lewat keterangan tertulis, dikutip Kamis 22 Juni 2023.

Denny Indrayana mengatakan bahwa ada seorang anggota DPR yang menyampaikan Anies segera ditersangkakan. Semua komisioner KPK juga sudah sepakat.

Denny Indrayana bilang, skenario menjadikan Anies Baswedan tersangka makin terbaca dengan adanya perpanjangan masa jabatan pimpinan KPK menjadi 5 tahun.

“Makin terbaca, kenapa masa jabatan para pimpinan KPK diperpanjang MK satu tahun. Untuk menyelesaikan tugas memukul lawan-oposisi, dan merangkul kawan-koalisi, sesuai pesanan kuasa status quo.

Lebih lanjut Denny Indrayana mengatakan, Presiden Jokowi menggunakan 9 strategi dan 10 sempurna untuk mendukung Ganjar, mencadangkan Prabowo Subianto dan menjegal Anies Baswedan.

Berikut 9 strategi Jokowi yang dimaksud Denny Indrayana:

Pertama di tahap awal, Presiden Jokowi dan lingkaran dalamnya mempertimbangkan opsi untuk menunda pemilu, sekaligus memperpanjang masa jabatan Presiden.

Kedua, masih di tahap awal, segaris dengan strategi penundaan pemilu, sempat muncul ide untuk mengubah konstitusi guna memungkinkan Presiden Jokowi menjabat lebih dari dua periode.

Ketiga, menguasai dan menggunakan KPK untuk merangkul kawan dan memukul lawan politik.

Keempat, menggunakan dan memanfaatkan kasus hukum sebagai political bargaining yang memaksa arah parpol dalam pembentukan koalisi pilpres.

Kelima, jika ada petinggi parpol yang keluar dari strategi pemenangan, maka dia beresiko dicopot dari posisinya.

Keenam, menyiapkan komposisi hakim Mahkamah Konstitusi untuk antisipasi dan memenangkan sengketa hasil Pilpres 2024.

Ketujuh, adalah tidak cukup hanya mendukung pencapresan Ganjar Pranowo, Jokowi juga memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto.

Kedelapan, Jokowi adalah membuka opsi mentersangkakan Anies Baswedan di KPK. Ini sudah menjadi rahasia umum, terkait dugaan korupsi Formula E.

Kesembilan, adalah mengambil alih Partai Demokrat melalui langkah politik yang dilakukan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

Kesepuluh, yang menyempurnakan adalah dengan berbohong kepada publik. Presiden Jokowi berulang kali mengatakan urusan capres adalah kerja para Ketum Parpol, bukan urusan Presiden. Belakangan, baru Beliau akui akan cawe-cawe dalam Pilpres 2024.

“Saya berharap, Presiden Jokowi menghentikan cawe-cawenya, termasuk mentersangkakan dan menjegal Anies. Kalau masih diterus-teruskan, menjadi pertanyaan apa maksud dan tujuannya? Salah satu hipotesis yang tidak terhindar terlintas di kepala saya adalah, Presiden Jokowi justru mengundang ketidakpastian dan kegaduhan, yang ujungnya menunda pemilu, dan memperpanjang masa jabatannya sendiri. Semoga hipotesis saya keliru,” Pungkas Denny Indrayana.[]


Sumber / Artikel asli : RADARSULBAR.CO.ID

0/Post a Comment/Comments