Pemerkosa Demokrasi Demi Memperkaya Diri Pantas Diadili

Oleh : Raja Abdul Razzi
(Ketua Umum HMI Cabang Aceh Timur)

OPINI - Kerakusan, Ketamakan dan Penghianatan terhadap tanggung jawab Profesi semakin menjadi - jadi, berkhianat kepada Bangsa dan Negara menjadi tontonan vulgar dan gratis di Negeriku ini.

Balada Gratifikasi pun kian menjadi solusi agar mendapat posisi dan disposisi. Perilaku manusia sampah yang tidak lagi perduli dengan sumpah serapah perlu di adili hingga ke bilik jeruji besi. 

Ironis sekali fenomena yang kita lihat beberapa hari yang lalu, dimana ribuan warga Aceh Timur, dari yang Dewasa hingga yang masih berkepala dua, mereka berbondong - bondong menyerahkan berkas ke Komisi Independen Pemilu (KIP) untuk mendaftarkan diri menjadi Panitia Pemungutan Suara (PPS) pemilu 2024 nanti.

Berdalih mengambil posisi untuk mengabdi pada negeri seakan ingin menciptakan pemilu yang demokrasi. Pergeseran jati diri terjadi terang - terangan tanpa peduli terhadap halal dan haram. Dunia memang sudah terbalik, yang seharusnya halal namun diupayakan dengan cara yang haram sehingga yang haram sudah yang seakan -akan menjadi halal.

IDI SPORT CENTER (ISC) menjadi saksi bisu bagi 6226 (Enam Ribu Dua Ratus Dua Puluh Enam) calon peserta PPS mengikuti ujian tulis yang di selenggarakan selama dua hari oleh KIP Aceh Timur.

Terendus kabar praktik 'suap menyuap' santer di bicarakan oleh calon PPS, pasalnya untuk lulus menjadi PPS harus menyediakan uang muka sebesar 3.000.000.00 (Tiga Juta Rupiah).

Aceh Timur memiliki 513 (Lima Ratus Tiga Belas Desa ), sedangkan dalam satu desa terdiri dari 3 (Tiga) anggota PPS jika dikalikan menjadi 1.539 (Seribu Lima Ratus Tiga Puluh Sembilan) anggota PPS seluruh Aceh Timur, kemudian dikalikan 3.000.000.00 (Tiga Juta Rupiah) maka kita akan menemukan angka yang fantastis, totalnya mencapai 4.617.000.000.00 (Empat Milyar Enam Ratus Tujuh Belas Juta Rupiah) yang akan di dapatkan oleh Calo PPS.

Dengan jumlah yang fantastis tentu dapat menggiurkan siapa saja, penghianatan yang dilakukan oleh oknum - oknum yang tidak menjunjung tinggi hukum di Negeri ini, Oknum - Oknum yang memperkosa Demokrasi sudah sepantasnya di adili agar tidak menciderai pesta Demokrasi.

Oknum tidak tahu diri, memihak karena uang kopi, bukan kepada mereka yang murni dan berprestasi. Betapa malangnya Negeri ini jika proses Korupsi masih menjadi Trend Mode Pesta Demokrasi.***

Aceh Timur, Selasa 17 Januari 2023
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.